Oleh: Hendra Setiawan (Ketua Yayasan Pondok Yatim Al Hilal)
Pondok yatim memiliki dua kelompok anak yatim yang di asuh. Kelompok pertama adalah anak yatim yang di asramakan, diasuh, dijaga dan dididik langsung di asrama. kelompok kedua adalah anak yatim yang tinggal bersama keluarganya. bila masih ada ibunya, tinggal dengan ibunya, bila sudah tidak ada ibunya tinggal dengan walinya. anak yatimdatang ke pondok setiap hari untuk mengaji dan ibu/walinya minimal seminggu sekali datang ke pondok untuk mengaji dan diberi pelatihan. Biaya hidup, biaya sekolah anak yatim ditanggung oleh pondok yatim.
Kelompok kedua ini kami kembangkan dan akan kami perluas ke daerah lain karena pada prinsipnya anak-anak hanya dapat mengembangkan potensi penuh mereka jika mereka memiliki keluarga yang mendukung dan yang melindungi lingkungan. inilah sebabnya mengapa pondok yatim menawarkan perawatan berbasis keluarga bagi anak-anak yang kehilangan orang tuan mereka.. Kelompok kedua ini juga sangat mudah untuk disebarkan ke daerah lain. Dengan konsep ini seseorang bisa menjadi pengasuh anak yatim walau tidak mempunyai anak yatim di rumahnya. Sehingga makin banyak orang yang akan masuk dalam kategori hadist Nabi: “Orang yang mengasuh anak yatim akan dekat denganku seperti dekatnya (jari tengah dan jari telunjuk).” [HR. Bukhari Muslim]
Ciri khas pondok yatim di banding lembaga anakyatim lainnya adalah pada system asuhan dan pendidikan yang diberikan kepada anak asuhnya.
Pondok yatim mengusahakan suatu pendekatan melalui suatu sistem terpadu, agar anak yatim menjadi anak yang mandiri, sehat, cerdas, dan mempunyai manfaat bagi masyarakat. itu dibangun dalam suasana ke akraban keluarga. sistem ini mengandung empat prinsip dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai keadaan alami dan satu sama lain tidak dapat di pisahkan. Pondok yatim menggunakan suatu pendekatan keluarga dalam pengasuhan jangka panjang anak-anak yatim.
konsep ini berdasarkan pada empat hal, yaitu:
1. Ibu: Setiap anak yatim memiliki sosok ibu.
Anak yatim walaupun sudah kehilangan bapaknya. tidak boleh kehilangan Figur Ibu. Karena itu, setiap anak yatim yang kami asuh harus mempunyai figur ibu. itu bisa langsung dari ibu kandingnya (bila masih ada) atau keluarganya yang lain yang di tunjuk sebagai wali. Ibu/wali anak aytim harus mampu membangun hubungan yang mesra dengan setiap anak yang di percayakan kepadanya, dan memberikan rasa aman, kasih sayang, dan keseimbangan yang di perlakukan oleh setiap anak. Ibu/wali anak yatim merupakan poin penting dari pengasuh anak yatim. Ia di harapkan dapat mencurahkan segala kasih sayangnya, sebagaimana yang dilakukan oleh seorang ibu alami. Ibu/wali anak yatim harus benar-benar tinggal secara fisik bersama anak-anak sehingga mampu mengetahui dan menghormati latar belakang keluarga, akar budaya dari anak yatim. sehingga ibu mampu membimbing, mengikuti perkembangan mereka, dan menjalankan segala urusan rumah tangga secara mandiri.
2.Kakak Adik: Anak yatim mempunyai kakak dan adik.
Sesama muslim adalah bersaudara. Di pondok yatim, seorang anak aytim mempunyai kakak dan adik. Bisa dengan sesama anak yatim lainnya atau dengan kakak asuh dari relawan. Dengan mempunyai kakak atau adik yang umurnya tidak terlalu jauh dengan dirinya, diharapkan anak yatim mempunyai perasaan tenang, merasa memiliki banyak saudara dan tidak merasa sendirian.
3. Rumah: anak yatim dan ibu/walinya tinggal di rumah dengan suasanan nyaman.
Rumah keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak mendapatkan pengalaman dalam proses pendidikannya. Rumah merupakan tempat tinggal sebuah keluarga, dan setiap keluarga mempunyai ciri khas dan kebiasaan yang tampak dalam kehidupan sehari-hari. Di bawah atapnya, anak-anak menikmati rasa aman dan rasa memiliki. Anak-anak tumbuh dan belajar bersama-sama, saling berbagi tanggung jawab dan semua kegembiaraan serta kesedihan dalm kehidupan sehari-hari. Pengasuh anak aytim akan berkunjung secara rutin ke rumah-rumah anak yatim. Bersilaturahmi sambil memantau kondisi dan perkembangan anak aytim dengan ibu/walinya.
4. Desa: Anak yatim dan keluarganya merupakan bagian dari masyarakat.
Anak yatim tinggal bersama dalam suatu masyarakat, membentuk lingkungan desa yang mendukung anak-anak menikmati kegembiraan masa kanak-kanak mereka. Keluarga-keluarga saling berbagi pengalaman dan bantu membantu. anak yatim di desa tersebut pada hakikatnya juga tanggungjwab masyarakat di desa tersebut. Karena itu masyarakat di ajak untuk ikut membantu anak yatim semampunya. Bisa dengan tenaga, uang, waktu atau minimal perhatian kepada anak yatim. Anak yatim dan keluarganya juga hidup sebagai anggota yang berintegrasi dan memberikan kontribusi bagi masyarakat setempat. Melalui keluarga, desa dan masyarakat, setiap anak belajar ambil bagian secara aktif di dalam masyarakat. Hidup bersama dengan masyarakat sekeliling merupakan suatu terapi yang tepat untuk anak yatim yang sudah kehilangan bapaknya. Di saping itu, akar budaya yang kuat dari masyarakat sekeliling akan dipertahankan agar anak-anak tetap tumbuh dala lingkungan dan akar budaya yang sama.
Kami membuka kesempatan terhadap teman-teman siapa saja untuk menjadi pengasuh anak yatim. Bapak/ibu bisa menjadi pengasuh anak yatim walau tanpa mempunyai anak yatimdi rumahnya. Cukup menyumbangkan apa yang dimiliki secukupnya saja. Bila ada kelebihan waktu sumbangkan waktunya. Bila ada kelebihan tenaga, sumbangkan tenaganya. Bila ada kelebihan ilmu, sumbangkan ilmunya. Bila ada kelebihan harta, sumbangkan hartanya.
===================<<>>=====================
“Siapa yang mengasuh anak aytim dan berbuat baik pada mereka akan dijadikan baginya tirai pelindung dari api neraka.” (HR. Bukhari)
===================<<>>=====================






