Posted on 18 August 2012 by admin
Orang yang cerdas mengatur hidupnya di dunia dengan akalnya. jika hidup dalam kemiskinan, ia berusaha keras untuk menghasilkan rezeki yang mencegahnya dari penghinaan manusia. Ia juga mengurangi kebergantungan kepada orang lain dengan cara hidup sederhana. Oleh karena itu, ia hidup tenang dan tak pernah mendengar ocehan orang lain yang sampai ke telinganya. Ia hidup dengan harga diri di tengah-tengah mereka. jika hidup dalam kekayaan, ia menggunakan akalnya untuk tidak berlebihan dalam menggunakan hartanya, khawatir ia suatu saat menghajatkan sehingga membuatnya rendah di mata orang lain. (Imam Ibnu Al-Jauzy). Saya pernah melihat seorang peminta-minta keluar dari angkutan umum, bis, atau rumah-rumah warga untuk meminta sumbangan. Tubuhnya sehat tetapi menjadi peminta-minta. Tidak malu apalagi terhinda. Kenapa tubuhnya yang sehat itu tidak digunakan sebagai modal awal untuk bekerja? Di pihak lain, ada seorang tetangga yang cacat sebelah tangannya. Ia hanya mampu menggunakan sebelah tangannya yang satunya lagi. walaupun begitu dia tetap bersemangat dalam mencari nafkah. Dia tidak pernah meminta-minta bahkan selalu siap menolong jika di mintai bantuan. Orangnya sederhana dan senang beribadah. Semangatnya dalam mencari nafkah, menjadi cambukk untuk diri saya; mengapa orang sehat seperti saya malas mencari nafkah? Menurut saya, orang yang malas mencari nafkah padahal sudah mampu dan wajib baginya, pertanda orang tersebut kufur terhadap nikmat Allah. Saya juga melihat di tengah-tengah masyarakat, ada orang kaya yang gemar menghambur-hamburkan hartanya seolah tidak ada hari esok lagi. Atau menggunakan hartanya untuk berbuat maksiat. Saat hartanya habis, ia bisa menjadi orang yang terhina. Teman-teman menjauhinya. Saat miskin itulah dia merasakan jika saat kaya dulu dia tidak pandai bersyukur. Itulah. Seringkali penyesalan datang belakangan. Sementara orang yang menggunakan akalnya, baik miskin maupun kaya, dia akan hidup sederhana. Tidak setiap orang kaya adalah sederhana tapi setiap orang sederhana pasti kaya. Kekayaan dan kemiskinan hanyalah materi, sedangkan ruhnya adalah kesederhanaan.
Posted on 04 August 2012 by admin
Wajiblah bagi orang yang cerdas untuk memelihara apa yang di milikinya dan rajin berusaha untuk tidak membuka peluang bagi kezaliman atau penghinaan orang-oran gyang bodoh. (mam Ibnu Al-Jauzy)
Salah satu prinsip dalam Islam adalah Kesederhanaan dalam kemandirian. Apa maksud dari prinsip itu? Hidup sederhana dalam kemandirian lebih baik dari pada hidup boros dalam kekayaan. Kekayaan bisa habis dengan pemborosan. setelah itu kita tidak punya apa-apa. lalu kita menjadi meminta-minta. Maka terhinalah kita karenanya. Sebaliknya, orang yang memiliki prinsip kesederhanaan dalam kemandirian, maka akan berusaha dengan kemandirianya. Dia akan bersiap diri di kala paceklik tiba. hidup sederhana menjadi pilihan untuk ‘mengamankan masa depan, hidup dalam kemulyaan; dulu yang biasa memberi akan tetap memberi di masa yang akan datang.Dia adalah orang rajin menabung, menginvestasikan hartanya bukan menghambur-hamburkannya.Jika dia kaya, cukuplah rumah yang porposional untuk diri dan keluarganya. Dia tidak akan membeli barang diluar kebutuhannya, berlebih-lebihan dan bererilaku yang konsumtif.
Hal ini sesuai sabda rasulullah Saw.: “Sungguhlebih baik bagi seorang membawa seikat kayu bakar dipunggungnya (lalu menjualnya) dari pada meminta-minta dari orang lain yang mungkin akan memberinya atau menolaknya.” (HR. malik, Bukhari, Muslim, dan Nasai).
anar r.a. meriwayatkan bahwa seorang Anshar pernah datang kepada Rasulullah Saw. dan meminta sesuatu (mengemis), Rasulullah Saw. bertanya kepadanya, “Apakah di rumahmu benar-benar tidak ada apa-apa?” ia Menjawab, Ya Rasulullah, di rumah cuman ada sekantong kain terpal, satu bagian saya pakai, satu bagian lagi saya b entangkan untuk istirahat tidur dan sebuah gelas yang saya pakai untuk minum.” Rasullullah bersabda, “bawalah kedua barang itu kepadaku.”
orang Anshar itupun membawanya kehadapan Rasulullah Saw. . Kemudiian Rasulullah Saw. mengambil barang itu dan mengumumkannya, “Siapa yang mau membeli barang-barang ini dariku?”
Akhirnya seseorang menjawab, “Aku akan membelinya seharga satu dirham.” Rasulullah bertanya (menawarkan) beberapakali, “Siapa yang mau membelinya dengan harga yang lebih tinggi?”
Akhhirnya seseorang berkata, “Aku akan membelinya seharga dua dirham.” Kemudian Rasulullah menjual barang-barang tersebut kepadanya dan memberikannya dua dirham itu kepada orang Anshar tadi serta bersabda, “Dan berilah makanan dengan satu dirham dan berimakanlah keluargamu. Satu dirham lainnya belikanlah kapak dan bawalah kapak itu kepadaku.”
Orang Anshar itu lalu membeli kampak dan membawanya kepada Rasulullah Saw. Rasullah kemudian mengambil kapak itu dengan tangannya yang penuh berkah memasangkan pegangan (tangkai) pada kapak itu dan kemudian memberikannya kepada orang Anshar itu seraya bersabda, “Pergilah, Potonglah kayu dan jualah. Jangan datang kepadaku sebelum limabelas hari.”
Orang itu melakikan sebagaimana apa yang telah di perintahkan dan datang kembali setelah lima belas hari dengan membawa uang 10 dirham. Dan dengan uang itu dia membeli pakaian dan makanan. Rasulullah bersabda, “ini labih baik bagimu dari pada engkau muncul pada hari kiamat dengan tanda di wajahmu yang menunjukan bahwa engkau adalah seorang pengemis.”
“Sungguh pagi-pagi seorang berangkat, lalu membawa kayu bakar di punggungnya dan mendapatkan kecukupan dengannya, sehingga tidak meminta-minta kepada orang lain, jauh lebihbaik baginya dari pada meminta-meminta ke orang lain, mereka memberinya atau menolaknya. ini karena tangan di atas jauh lebih aik dari tangan yang di bawah, dan mulailah dari orang yang menjadi tanggungan anda.” (HR. Tirmidzi).
“Orang yang berudaha keras mengejar kesejahteraan dunia dengan cara-cara yang benar, dengan menjauhkan diri dari meminta-minta kepada orang lain untuk membiayai keluarganya, dan bersikap baik kepada tetangga, maka di hari kiamat dia akan di bangkitkan Allah dengan wajah yang cemerlang seperti bulan purnama.” (HR. Abu Naim).
“Tidak ada mata pencaharian yang lebih baik dari pada yang diperoleh dari tangannya sendiri, sehingga apa saja yang digunakan untuk dirinya sendiri, untuk anaknya dan untuk pelayannya, baginya merupakan sedekah..” (HR. Ibnu Majah).
Hadist-hadist di atas menjadi penyemangat bagi kita untuk rajin mencari nafkah, karena merupakan ibadah dan juga maghfirah. Giat mencari nafkah, meskipun sebagai tukang kayu atau sebagai pekerjan-pekerjaan rendahan lainnya, akan jauh utama dari pada menjadi peminta-minta. Dengan cara itulah hidup kita kan jauh lebh tenang, nerdeka, dan bermartabat.