Archive | Ramadhan

Lailatuqadar

Tags: ,

Ciri Hamba Yang Mendapat Lailatul Qodar

Posted on 15 September 2013 by admin

ALKISAH di sebuah Masjid di Bandung ada dua orang yang beritikaf. Keduanya sangat bersungguh-sungguh melaksanakan itikaf karena berharap mendapatkan malam lailatul qodar. Orang pertama,bercerita ketika sedang beritikaf dia mendapatkan pengalaman spiritual. Ketika itu malam tiada angin, dan paginya ada rembulan berwarna putih, ciri-ciri lailatul qadar. Kemudian dia merasakan sesuatu yang luar biasa.

Sedangkan orang kedua, dia tidak merasa mendapatkan pengalaman spiritual yang menggetarkan atau melihat sesuatu yang luar biasa seperti cahaya rembulan yang sejuk tapi tidak menyilaukan. Hanya saja beliau khusu mengisi malam-malam 10 hari terkahir dengan ibadah.

Singat certita setelah selesai itikaf tersebut, tiga bulan kemudian terjadi perbedaan antara kedua orang tresebut, orang yang pertama melanggar perintah Allah atau tidak patuh pada larangan-Nya. Sedangkatorang kedua yang merasa tidak mendapat lailatur qadar, dia tetap menjadi orang yang saleh dan bertakwa.

Jadi, siapa yang sebenarnya mendapat lailatul qadar ?

Sesunguhnya buah dari ibadah adalah ahsanul akhlak (ahlak yang baik). Jika ada orang yang nerasa sudah beribadah dengan baik bahkan ketik aramadhan mendapatkan malam lailatul qodar tetapi ahlaknya tidak berubah tentunya dipertanyakan dengan kualitas ibadahnya. Rasulullah SAW bersabda,” Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq.” Artinya, Sesungguhnya aku diutus Tuhan untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.

Karena itu, output tujuan lailatul qadar tentu saja mendapatkan rahmat dan barokah yang dijelaskan para ulama, tapi pada akhirnya adalah akhlak kita.

Kita sangat bangga dan salut banyak yang itikaf, membaca Al Qur’an dan berdzikir supaya mendapatkan rahmat dan barokahnya di puncak bulan suci Ramadhan. Sesungguhnya yang pasti adalah puncak bulan suci Ramadhan ditunggu dan dinantikan oleh orang yang beriman dan bertakwa, dan kita harus mendapatkannya. Tetapi apakah kita mendapatkan perubahan setelah Ramadhan, setelah kita mengisi sepuluh hari terakhir dengan itikaf?

Berikut ini sebagian tanda-tanda orang yang mendapat lailatul Qadar yang diambil dari Ceramanya Ustad H Ahmad Zaky :

  1. Dia senantiasa akan berusaha ingin menjadi yang terbaik di mata Allah SWT begitu pula dengan sesama manusia. Selalu mengerjakan perintah Allah SWT dan melakukannya dengan cara terbaik di mata Allah SWT.
  2. Orang yang berhasil mendapatkan Lailatul Qadar akan selalu merasa kurang khususnya dalam soal beribadah. Selain ibadah wajib yakni sholat lima waktu, ia juga tidak pernah meninggalkan ibadah sunnah seperti tahajud dan tarawihnya tidak pernah absen.
  3. Dalam kehidupan sehari-hari baik dengan atasan maupun bawahan, ia selalu menjadi orang yang rendah hati dan bersikap sewajarnya saja. Tidak merasa sombong dan angkuh khususnya kepada sesama manusia.
  4. Orang yang mendapatkan Lailatul Qadar akan terlihat lebih bersinar wajahnya dan enak untuk dipandang. Namun tanda-tanda ini juga hanya bisa dirasakan dan dilihat oleh orang-orang yang senantiasa selalu dekat kepada Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW diutus ke bumi tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menyempurnakan ahlak manusia. Sehingga serajin apapun seseorang menjalankan ibadah kepada Allah SWT tidak bernilai apa-apa jika tidak memiliki ahlak yang mulia. Karena pada dasarnya tujuan ibadah itu sendiri adalah untuk membenahi ahlak manusia. Ahlak itu sendiri diperlukan dalam upaya mewujudkan perdamaian di muka bumi karena salah satu arti Islam adalah perdamaian : damai kepada diri sendiri, damai kepada orang lain dan damai kepada Allah Penguasa Alam Semesta..


By Pondok Yatim | Pengasuh Anak Yatim

Comments (0)

kegatan pondok yatim

Tags:

Berharap Bertemu Ramadhan Kembali

Posted on 03 September 2013 by admin

 

Setiap Habis Rama­dhan

Oleh: Taufik Ismail

Setiap habis rama­dhan

Hamba rindu lagi ramadhan

Saat-saat padat beribadah

Tak terhingga nilai mahalnya

Setiap habis ramadhan

Hamba cemas kalau tak sampai

Umur hamba di tahun depan

berilah hamba kesempatan

Setiap habis Ramadhan

Rindu hamba tak pernah menghilang

Mohon tambah umur setahun lagi

Berilah hamba kesempatan

Alangkah nikmat ibadah bulan Ramadhan

Sekeluarga, sekampung, senegara Kaum muslimin dan muslimat se dunia

Seluruhnya kumpul di persatukan

Dalam memohon ridho-Nya.

Tidak terasa Ramadhan sudah meninggalkan kita semua. Begitu cepat terasa perpisahan dengan bulan Mubarok. Bulan mulia yang penuh barokah dan ampunan. Harusnya kita sering merenung, apakah kita sudah memanfaatkan dan mengisi bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknyanya? Atau malah ‘memperlakukan’ Ramadhan seperti bulan biasanya? Shalat kita mungkin tak beda dengan saat shalat selain Ramadhan, shaum kita tak sempurna, shadaqah kita dihiasi dengan sikap riya’, dan amalan lainnya yang kita khawatir sia-sia belaka. Naudzubillah min dzalik. Semoga kita semua termasuk hamba-hamba Allah Swt. yang pandai bersyukur atas segala nikmat yang diberikanNya. Memanfaatkan Ramadhan sebaik mungkin demi mengumpulkan pahala. Semoga.

Bukankah tidak semua orang diberikan karunia bertemu dengan Ramadhan di Tahun ini, Banyak diantara teman kita, saudara, atau ustad yang Ramadhan dulu masih menikmati Ramadhan dan sekarang sudah kembali kepada-Nya. Siapa yang menjamin umur kita samapi pada Ramadhan tahun depan? Sebagai salah satu rasa sykur kita mendapat jamuan Allah di bulan Ramadhan tahun ini, marilah kita teruskan amalan-amalan bulan Ramadhan di 11 bulan berikutnya. Semoga kita dipertemukan kembali di Ramadhan tahun depan.

Ramadhan telah berlalu, Bagaimana keadaan kita?

Kita merasa sangat senang dan gembira ketika melihat manusia berbondong-bondong ke masjid untuk shalat jamaah dibulan Ramadhan, masjid-masjid penuh, Al Quran dilantunkan siang malam, orang-orang berlomba untuk bersedekah dan melakukan berbagai amal kebaikan, akan tetapi kita terheran-heran setelah ramadhan lewat kita tidak mendapati lagi pemandangan yang sangat menyejukan ini, secara tidak langsung seolah-olah mereka mengatakan bahwa ibadah, taubat dan amalan-amalan ibadah lain itu hanya dilakukan dibulan suci ramadhann saja, memang ramadhan merupakan bulan paling mulia diantara bulan-bulan lain, oleh karena itu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sangat rajin beribadah ketika datang bulan suci ini, akan tetapi beliau juga beribadah dibulan-bulan lain, hanya saja beliau lebih giat ketika datangnya bulan ini dan beliau sering berdoa dengan doa ini:”Dan aku berlindung dari kemunduran (dalam beribadah) setelah kesungguhan melakukannya (keistiqomahan)”. Allah juga berfirman: Dan janganlah kalian manjadi seperti seorang wanita yang mengurai benang-benang setelah ia memintalnya dengan kuat (QS. An Nahl: 92)

Jangan sampai kita tertipu dengan amalan-amalan yang telah kita kerjakan dibulan ramadhan dan merasa puas dengan apa yang telah kita lakukan sehingga kita berhenti beramal setelahnya, memang kita harus mensukuri nikmat Allah yang telah memudahkan kita untuk melakukan ketaatan didalamnya, tapi yang jauh lebih penting dari itu adalah kita memohon kepada-Nya agar kita bisa istiqamah dan meningkatkan kwalitas pribadi kita setelah ramadhan berlalu, agar kita bisa mencapai derajat ketakwaan, karena itulah sebenarnya tujuan inti dari puasa ramadhan. Orang yang senang bersantai-santai dan bermalas-malasan sesungguhnya ia telah kehilangan makna istirahat, karena ia akan menyesal dikemudian hari dan sengsara berkepanjangan.Dikatakan : “Jika engkau tidak ingin capek maka maka beramalah semaksimal mungkin agar engkau tidak capek dikemudian hari”

Allah berfirman: ” Jika engkau telah selesai melakukan sesuatu maka kerjakanlah yang lain” (QS. Al Insyirah: 8)

Karena seorang pemalas tidak akan menunaikan hak dengan sepenuhnya, sedangkan orang cerdas adalah orang yang merendahkan dirinya dan beramal untuk kehidupan akhirat, dan orang lemah adalah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan banyak berangan-angan.Sesungguhnya manusia telah diciptaklan dalam keadaan susah payah, dan jiwa yang baik akan berusaha untuk mendekatkan diri kepada Rabbnya, dan hal terpenting yang akan membantu seseorang untuk konsisten dan istiqamah dalam ketaatan adalah jangan sampai membebani diri dengan sesuatu yang tidak mampu memikulnya, sebaik-baik amal adalah yang dilakukan secara kontinyu sekalipun sedikit, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,. Bersabda: “Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidaklah ada seorangpun yang mempersulitnya kecuali ia akan mengalahhkannya” (HR. Bukhari).

Beliau juga bersabda: “Wahai manusia lakukanlah amal kebaikan yang engku mampu, karena sesungguhnya Allah tidak akan merasa bosan hingga engkau bosan, dan sesungguhnya amal yang paling Allah cintai adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus sekalipun serdikit” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ramadhan merupakan madrasah yang seharusnya mengeluarkan generasi-generasi terpelajar dan disiplin, seseorang yang telah lulus dari sekolahan ini hendaknya kwalitas keimanan dan ketakwaanya akan meningkat, ia telah dibiasakan untuk menahan hawa nafsu, shalat malam dan bersedekah serta berbagai macam amalan shalih lainnya, seharusnya setelah ia keluar dari bulan ini ia akan terus melakukannya dan jika perlu mengingkatkannya kejenjang yang lebih tinggi, agar ia termasuk orang yang beruntung, karena barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin maka ia termasuk orang yang merugi, apalagi jika amalannya lebih buruk maka hal itu merupakan kerugian diatas kerugian, kita memohon kepada Allah swt., agar selalu ditolong dan dibimbing kejalan yang lurus dan menjadi hamba-hamba Nya yang selalu diridhai. Amin. http://eddyjoenarko.blogspot.com

“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan puasa ini sebagai puasa yang terakhir dalam hidupku. Seandainya Engkau berketetapan sebaliknya, maka jadikanlah puasaku ini sebagai puasa yang dirahmati bukan yang sia – sia semata”

Comments (0)

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Tags:

Selamat Hari Raya Idul Fitri!

Posted on 29 August 2013 by admin

Sahabat pengasuh anak yatim, idul fitri telah berlalu. Kita telah melewati hari idul fitri pada tanggal 8 Agustus 2013, Alhamdulillah semua serentak sholat Idul Fitri pada hari itu, walaupun ada sebagian saudra kita yang melaksanakan dihari lain. Perbedaan adalah hal biasa, yang harus disikapi dengan bijak, ya harus kita syukuri saja. Kita ambil hikmah dari pelaksanaan Idul Fitri itu sendiri. Tidak perlu dianggap sebagai masalah. Gampang kan!..

Seperti tradisi lebaran tahun-tahun sebelumnya, kita sangat sibuk dengan berbagai kegiatan. Mulai dari membeli baju baru, membuat ketupat dan membuat kue dan penganan untuk oleh-oleh lebaran, hingga berburu tiket atau menyiapkan kendaraan pribadi untuk pulang kampung. Segala sesuatu dipersiapkan, untuk lebaran yang penuh berkah.

Selepas maghrib gema takbir berkumandang di mesjid, surau, mushola, bahkan ada yang melaksanakan takbir keliling, besoknya di hari Idul Fitri semua membanjiri masjid atau lapangan untuk melaksanakan sholat Idul Fitri. Silaturahmi dengan orang tua, mertua, kerabat dan teman teman lama pun segera dilaksanakan, sambil makan gule atau ketupat lebaran. Disini suasana khas lebaran, yang tidak bisa ditinggalkan. Pulang kampung saat Idul Fitri merupakan tradisi yang sulit untuk diubah. Semuanya sudah seperti itu sejak jaman dulu. Kita diajari orang tua seperti itu, dan sampai sekarang juga masih seperti itu. Suasananya dari tahun ke tahun semakin ramai, bertambah meriah.

Satu hal yang perlu kita ketahui bahwa silaturahmi dapat dilaksanakan kapan saja, tidak harus menunggu hari raya Idul Fitri. Semua hari dibuat fitri/suci, penuh berkah, penuh maaf, hari-hari menjadi suci. Sehingga kita selalu mampu menjaga emosi dan nafsu, yang datang setiap hari tanpa mengenal waktu. Semoga hari-hari kita menjadi menyenangkan, penuh kesabaran, keikhlasan, sehingga hati kita selalu suci. Makna Idul Fitri tentunya adalah untuk saling bersilaturahmi, saling memaafkan. Memperbaiki pikiran dan nurani, agar tahun depan kita bisa bertingkah laku lebih baik lagi. Aamiin.

Taqobalallahu minna wa minkum, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1434 H

Comments (0)

maskam3[1]

Tags: ,

Menyambut Ramadhan Dengan Gembira

Posted on 23 June 2013 by admin

 

Segala puji bagi Allah, teriring doa dan keselamatan semoga terlimpah atas nabi dan rasul termulia: Muhammad SAW, juga atas keluarga dan para sahabat, serta kepada semua yang mengikuti mereka dalam kebenaran sampai hari kiamat nanti.

Ramadhan Kariim, Marhaban Ya Ramadhan … Bulan Ramadhan telah benar-benar datang menjelang. Kaum muslimin kembali bergembira dengan datangnya bulan yang mulia ini. Setelah sebelas bulan kita mengarungi kehidupan yang penuh warna-warni, maka inilah momentum yang tepat bagi kita semua untuk membersihkan diri dari segala dosa yang melekat tanpa kita sadari.

Kaum Muslimin yang berbahagia …

Sungguh kita semua bergembira sepenuh hati dengan datangnya Ramadhan yang penuh berkah. Rasa gembira ini adalah cerminan ketakwaaan yang ada dalam hati kita, karena sejatinya bulan Ramadhan adalah salah satu dari syiar dalam agama kita, yang harus senantiasa kita hormati dan agungkan. Allah SWT berfirman :

“ Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS Al-Hajj 32)

Karenanya, sungguh mengherankan jika ada sebagian kaum muslimin yang justru merasa berat dengan hadirnya Ramadhan, merasa bahwa Ramadhan mengekang segala kebebasan dan kemerdekaannya. Atau ada pula yang merasa biasa-biasa saja, merasa bahwa Ramadhan hanyalah rutinitas belaka, yang datang silih berganti sebagaimana bulan-bulan lainnya. Sikap seperti ini, tentu saja bukan cerminan ketakwaan yang ada dalam hati. Melainkan timbul dari hati yang sakit atau jiwa yang lekat dengan maksiat. Tentu saja kita berlindung dari sikap yang demikian …Naudzu billah tsuma naudzu billah Ma’asyirol mukminin rahimakumullah …

Kegembiraan kita tentu saja bukan sebagaimana kegembiraan anak-anak kecil dengan hadirnya Ramadhan. Karena mereka juga bergembira dengan datangnya bulan mulia ini, karena mempunyai waktu banyak untuk bermain bersama teman, bahkan –mungkin saja- gembira karena adanya petasan, dan janji pakaian baru di hari lebaran. Kegembiraan yang semacam initentu saja melekat pada diri anak-anak semata, tapi bukan kegembiraan yang kita maksudkan dalam menyambut Ramadhan yang mulia. Begitu pula kegembiraan kita bukanlah kegembiraan anak –anak yang beranjak remaja. Dimana mereka bergembira dengan hadirnya Ramadhan, karena mempunyai banyak kesempatan untuk jalan-jalan menghabiskan waktu bersama teman atau bahkan pasangannya. Banyak kita saksikan kesucian Ramadhan ternoda, dengan mudamudi yang justru menggunakan waktu-waktu ibadah untuk saling PDKT satu sama lainnya.

Naudzu billah tsumma naudzu billah ..

Kaum muslimin yang dirahmati Allah Subhanahu wa ta’ala …

Sesungguhnya kita bergembira dengan hadirnya Ramadhan, karena bulan ini membawa banyak keutamaan bagi kita semua. Jika kita merenunginya satu persatu lebih mendalam, maka tentulah kegembiraan itu akan kian bertambah lengkap dan sempurna. Marilah kita melihat beberapa keutamaan Ramadhan yang menjadikan alasan kita bersuka cita menyambutnya …

Pertama : Karena Ramadhan bulan penggugur dosa kita Rasulullah SAW bersabda dengan lisannya yang mulia :

”Shalat lima waktu, shalat jum’at sampai ke shalat jum’at berikutnya, puasa Ramadhan ke puasa Ramadhan berikutnya adalah sebagai penghapus (dosa) apabila perbuatan dosa besar ditinggalkan”. (HR. Muslim)

Hadirnya Ramadhan sungguh menjadikan momentum bagi kita untuk membersihkan diri dari segala noda dosa dan kemaksiatan yang tidak kita sadari. Ibaratnya pakaian yang sehari-hari kita pakai, meskipun tidak terkena lumpur atau kotoran yang jelas, tetap saja kita harus mencucinya karena ada debu yang melekat erat. Begitupun diri kita, sekalipun kita tidak menjalani dosa besar, namun tentu saja tanpa kita sadari terkadang ada hal yang kita lakukan menyebabkan noda kecil dalam hati kita, bisa jadi melalui lisan, pandangan, atau bahkan anggota badan kita. Astaghfirullahal adziim … Hasbunallah wa nikmal wakiil .

Inilah yang membuat kita bersuka cita karena mendapat kesempatan untuk menyucikan diri dari kita. Maka marilah kita menjalankan ibadah di dalamnya dengan penuh iman dan pengharapan,serta memperbanyak istighfar, agar benar-benar Ramadhan ini menjadi bulan pengampunan.

Bahkan diriwayatkan pula, bagaimana malaikat Jibril as melaknat mereka yang mendapati Ramadhan, tetapi tidak diampuni dosan-dosanya. Semoga ini bisa menjadi cermin bagi kita Semua kaum muslimin yang berbahagia …

Hal kedua yang membuat kita berbahagia adalah, karena Ramadhan merupakan bulan musim kebaikan, dimana kita semua menjalankan ibadah dengan penuh semangat, berbondongbondong dan sungguh terasa lebih ringan. Inilah yang dijelaskan dalam hadist Rasulullah SAW, tentang Ramadhan sebagai musim kebaikan yang menakjubkan :

“(Bulan dimana) dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, syetan-syetan dibelenggu. Dan berserulah malaikat : wahai pencari kebaikan, sambutlah. Wahai pencari kejahatan, berhentilah” (demikian) sampai berakhirnya ramadhan” ( HR Ahmad)

Inilah yang menjadikan kita bergembira, karena kebaikan begitu mudah dijalankan. Bersama sama kita lihat di masjid, mushola, bahkan di rumah-rumah kita, bagaimana Ramadhan menyinari kita dengan banyak amal dan kegiatan yang tak putus dan henti-hentinya. Dari mulai pagi hari hingga malam menjelang, bergantian kita melaksanakan amal kebaikan yang begitu beragam. Subhanallah walhamdlillah …

Kaum muslimin yang berbahagia …

Hal ketiga yang membuat kita berbahagia adalah, karena Ramadhan adalah bulan dimana ukhuwah kita meningkat. Bayangkan saja, bagaimana hari-hari ini dipenuhi dengan banyak pertemuan antar jamaah masjid, dari mulai sholat tarawih berjamaah, tadarusan selepas tarawih, hingga sholat shubuh berjamaah …. Kaum muslimin berkumpul setiap harinya dan merasakan keindahan ukhuwah yang luar biasa. Bahkan bukan hanya di luar rumah, di dalam rumah pun kita menemukan keharmonisan yang bertambah saat Ramadhan tiba. Banyak kesempatan untuk berkumpul antar anggota keluarga, khususnya saat buka puasa dan sahur menjelang. Ini semua tanpa kita sadari, sungguh membuat hati kita lebih tenteram dan nyaman. Lebih siap untuk menjalani semua aktifitas dan tantangan dalam kehidupan ini. Kaum muslimin yang berbahagia …

Yang terakhir, tentu saja kita bergembira dalam bulan Ramadhan ini karena Allah SWT banyak menjanjikan pahala kemuliaan bagi kita semua melalui amal-amal yang ada di dalamnya. Setiap amal mempunyai keutamaannya masing-masing. Khususnya kita bergembira karena di dalam Ramadhan ada satu malam yang mulia, yaitu lailatul qadar yang bernilai melebihi seribu bulan. Ini menjadi kesempatan yang sungguh kita impikan, untuk mendapatinya dengan memperbanyak ibadah pada malam tersebut.

Akhirnya, marilah kegembiraan ini kita jadikan sebagai pemicu awal untuk lebih bersemangat dalam mengarungi samudera keberkahan Ramadhan dengan ragam ibadahnya yang mulia. Kita menjalaninya satu persatu dengan ringan penuh suka cita, agar semua yang dijanjikan bisa kita

dapatkan dalam Ramadhan ini. Semoga Allah SWT memudahkan …

Allahumma sholli ala muhammad wa ‘ala aalihi wa ashabihi ajmain ..

[Kontributor NN]

Comments (0)


CHAT DENGAN STAFF KAMI:

Hendra
Iwan Setiawan
Handriana