Archive | August, 2012

mudik

Tags: , ,

Mudik Berkah Bernilai Ibadah: Begini Etika Bepergian ala Rasulullah

Posted on 24 August 2012 by admin

Oleh Ahmad Nurarifin

Tak terasa Ramadhan telah berlalu. Tradisi umat Muslim Indonesia, adalah ‘menggenapkan’ Ramadhan dengan mudik; kembali ke kampung halaman untuk bersilaturahim dengan keluarga dan handai taulan.

Mudik mempunyai makna sebagai salah satu wujud rasa cinta-kasih pada keluarga di rumah/kampung halaman. Setidaknya setahun sekali, tali silaturahim kembali dijalin. Menjalin silaturahim, adalah anjuran dalam Islam.

Sudah selayaknya bagi pemudik yang notabene adalah pemeluk agama Islam mengambil contoh cara bepergian yang dilakukan sumber panutannya, Rasulullah SAW. Ada beberapa catatanpenting mengenai bagaimana etika/akhlak Rasulullah ketika bepergian.

1. Berangkat pada hari Senin dan Kamis pada waktu Dhuha

Dalam buku Rasulullah, Manusia Tanpa Cela , dijelaskan, apabila hendak pergi menuju tempat yang jauh, Rasulullah SAW selalu memilih hari Senin atau Kamis, dan lebih dianjurkan pada hari kamis. Hal ini sesuai hadist beliau, Dari Ka’bbin Malik Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah pergi menuju perang Tabuk pada hari Kamis, dan Beliau menyukai bepergian pada hari Kamis.” (Muttafaqqun ‘alaih)

2. Membaca doa ketika menaiki kendaraan

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya jika Rasulullah menaiki kendaraan ketika hendak bepergian, Beliau bertakbir sebanyaktiga kali, kemudian berdoa: “Maha Suci Dzat yang telah menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami dahulu tidak mampumenguasainya. Dan sesungguhnya kepada Rabb kamilah, kami akan kembali. Ya, Allah! Kami mohon kepada-Mu dalam perjalanan kami ini kebajikan dan takwa, serta amal yang Engkau ridhai.Ya, Allah! Mudahkanlah perjalanan kami ini, serta dekatkanlah jarak perjalanan kami. Ya, Allah! Engkaulah teman dalam perjalanan, dan penjaga keluarga yang kami tinggal.

3. Disunnahkan tidak sendirian dan memilih ketua rombongan

Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya darikakeknya Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Orang yang bepergian sendirian adalah (bersama) setan. Dan orang yang bepergian berdua adalah (bersama) dua sethan.Sedangkan orang yang berpergian bertiga adalah rombongan musafir (yang tidak dihampiri setan).” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi dan Nasa’i, dengan sanad-sanad yang shahih)

4. Disunnahkan memperbanyak doa, karena pada saat itu doa dikabulkan

Dari Abu HurairahRadhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullahbersabda,”Tiga jenis doa yang dikabulkan dan tidak diragukanlagi, (yaitu) doa orang yang dizhalimi, doa orang yang bepergiandan orang tua (ayah) yang mendoakan (kejelekan) atas anaknya.” (HR Abu DawuddanTirmidzi, Hasan)

5. Disunnahkan shalat dua rakaat di masjid terdekat sebelum mendatangi rumah

Dari Ka’ab bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya jika Rasulullah datang dari perjalanan, Beliau mendatangi masjid dan shalat dua rakaat. (Muttafaqqun ‘alaih)

6. Wanita diharamkan bepergian tanpa disertai mahramnya

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah bersabda,”Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir bepergian dalam jarak sehari semalam, kecuali disertai mahramnya.” (Muttafaqqun ‘alaih).

Comments (0)

semut1

Tags: , , , , ,

Kemandirian dalam kesederhanaan

Posted on 18 August 2012 by admin

Orang yang cerdas mengatur hidupnya di dunia dengan akalnya. jika hidup dalam kemiskinan, ia berusaha keras untuk menghasilkan rezeki yang mencegahnya dari penghinaan manusia. Ia juga mengurangi kebergantungan kepada orang lain dengan cara hidup sederhana. Oleh karena itu, ia hidup tenang dan tak pernah mendengar ocehan orang lain yang sampai ke telinganya. Ia hidup dengan harga diri di tengah-tengah mereka. jika hidup dalam kekayaan, ia menggunakan akalnya untuk tidak berlebihan dalam menggunakan hartanya, khawatir ia suatu saat menghajatkan sehingga membuatnya rendah di mata orang lain. (Imam Ibnu Al-Jauzy). Saya pernah melihat seorang peminta-minta keluar dari angkutan umum, bis, atau rumah-rumah warga untuk meminta sumbangan. Tubuhnya sehat tetapi menjadi peminta-minta. Tidak malu apalagi terhinda. Kenapa tubuhnya yang sehat itu tidak digunakan sebagai modal awal untuk bekerja? Di pihak lain, ada seorang tetangga yang cacat sebelah tangannya. Ia hanya mampu menggunakan sebelah tangannya yang satunya lagi. walaupun begitu dia tetap bersemangat dalam mencari nafkah. Dia tidak pernah meminta-minta bahkan selalu siap menolong jika di mintai bantuan. Orangnya sederhana dan senang beribadah. Semangatnya dalam mencari nafkah, menjadi cambukk untuk diri saya; mengapa orang sehat seperti saya malas mencari nafkah? Menurut saya, orang yang malas mencari nafkah padahal sudah mampu dan wajib baginya, pertanda orang tersebut kufur terhadap nikmat Allah. Saya juga melihat di tengah-tengah masyarakat, ada orang kaya yang gemar menghambur-hamburkan hartanya seolah tidak ada hari esok lagi. Atau menggunakan hartanya untuk berbuat maksiat. Saat hartanya habis, ia bisa menjadi orang yang terhina. Teman-teman menjauhinya. Saat miskin itulah dia merasakan jika saat kaya dulu dia tidak pandai bersyukur. Itulah. Seringkali penyesalan datang belakangan. Sementara orang yang menggunakan akalnya, baik miskin maupun kaya, dia akan hidup sederhana. Tidak setiap orang kaya adalah sederhana tapi setiap orang sederhana pasti kaya. Kekayaan dan kemiskinan hanyalah materi, sedangkan ruhnya adalah kesederhanaan.

Comments (0)

ketika Ulama mencari Nafkah

Tags: , , , , ,

ketika Ulama mencari Nafkah

Posted on 17 August 2012 by admin

Apabila kita mencermati kehidupan Ulama salafus saleh, mereka telah memberikan contoh dan telada yang sangat mulia dalam menyeimbangkan antara kepentingan mencari ilmu dan mencari nafkah. Bahkan setiap Nabi dan Rasull berusaha dan berkarya untuk menopang kelangsungan dalam menyebarkan Risallah dan dakwah. Nabi zakaria menjadi tukang kayu, Nabi Idris menjahit pakaian, dan Nabi Daud membuat baju perang. Sehingga bekerja untuk hidup mandiri merupakan sunnah utusan Allah. Maka berusaha mencari nafkah baik dengan berdagang, bertani dan berternak tidak di anggap menjatuhkan martabat dan tidak bertentangan dengan sikap tawakal.

Bahkan Allah akan memberi ampunan kepada orang yang kelelahan karena mencari nafkah dan gigih bekerja sebagaimana saba Nabi SAW., “Barang siapa yang bermalam badannya lelah karena pekerjaannya, maka bermalam dalam keadaan terampuni dosanya.” (HR. Bukhari)

Inilah yang di pahami oleh para utusan Allah dan para ulama salaf sehingga mereka tergolong terhadap orang-orang yang rajin bekerja dan ulet dalam berusaha. Disisi lain, mereka juga gigih dan tangguh dalam menuntut ilmu dan menyebarkan agama. Tidak mengapa seseorang bekerja dibidang dakwah dan urusan kaum muslimin lalu mendapat imbalan dari bekerjaan tersebut, karena Umar Bin Khatab Ra. ketika menjadi khilafah mencukupi kebutuhan hidup keluarganya dari Baitul Mal.

Ketika menjadi khalifah, Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra. setiap pagi memanggul beberapa helai pakaian untuk di jual, lalu mereka bertemu dengan umar dan Ubaidah bin Jarrah, maka mereka berkata, “Bagaimana kamu berdagang sementara kamu menjadi pemimpin kaum Muslimin?”.

Maka beliau berkata, “dari mana aku menghidupi kkeluargaku?”

Mereka menjawab , “kalo begitu kami akan menjatahkanmu setiap hari separuh kambing dari harta Baitul Mal.”

Abu Qasim Al-Khaty bertanya kepada Imam Ahmad: “Apa komentar Anda terhadap orang yang hanya diam di rumah atau di sebuah masjid lalu berkata aku tidak perlu bekerja karena rizkiku tidak akan lari dan pasti datang.?” Maka beliau menjawab, “Orang tersebut bodoh terhadap ilmu, apakah tidak mendengarkan sabda Rasulullah Saw.: “Allah menjadikan rizkiku di bawah kilatan pedang (jihad).”

Sahl bin Abdullah At Tustary berkata, “Barang siapa yang merusak tawakal berarti telah merusak pilar keimanan dan siapa yang merusak pekerjaan berarti merusak sunnah.”

Cobalah renungkan kehidupan para utusan Allah Swt. dan para ulama salaf, kegiatan dalam mencari ilmu dan berdakwah tidak pernah melalaikan mereka untuk mengais rezeki yang halal untuk menafkahi keluarganya. Dalam Ihya Ulumudin karya Imam Al-Ghazali disebutkan, para ulama jika sudah cukup mencari nafkah, maka mereka berdakwah,beribadah atau menuntut ilmu. Bagi mereka, mencari nafkah bukanlah tujuan utama mereka, tetapi bagaimana mereka beribadah kepada Allah. Kita makan dan minum agar kita dapat menegakan tubuh kita untuk beribadah kepada Allah. Oleh karena itu, kita harus bisa meneladani mereka baik dalam menuntut ilmu maupun dalam mencari nafkah, janganlah malas bekerja dengan alasan tidak bisa menuntut ilmu.

Apapun bentuk usaha bagi seorang muslim yang penting halal dan diperoleh dengan cara yang benar. Maka hal itu harus ditekuni dan dijalani dengan penuh suka cita, tidak gengsi, rendah diri atau malu terhadap profesinya yang dianggap oleh kebanyakan orang sebagai bentuk profesi hina dan tidak bermartabat. Padahal mulia tidaknya sebuah usaha atau profesi tidak bergantung pada bergengsi atau tidaknya dipandangan manusia, seperti bekerja di perusahaan asing yang ternama atau posisi jabatan kelas tinggi atau menduduki tempat “basah” yang banyak proyeknya. Namun kemuliaan sebuah usaha sangat ditentukan oleh kehalalan dan benarnya jenis usaha di hadapan Allah serta terpuji dalam pandangan syariat.

Karena adanya sebuah paradigma yang salah dalam memandang sebuah usaha dan profesi, menjadikan banyak manusia yang mengambil jalan pintas dalam memilih jenis usaha (pekerjaan). Mereka tidak lagi memperhitungkan halal haramnya, yang terpenting bisa bekerja mendapatkan uang yang banyak apapun caranya. Banyak di antara mereka yang terjerumus kedalam usaha kotor yang sangat dimurkai Allah Swt.. Dan tidak jarang pula diantara mereka saling bersitegang dalam saingan bisnis yang tidak sehat, saling menjatuhkan satu sama lain. sehingga tujuan pokok dalam berusaha, yaitu “usaha untuk menopang hidup agar bisa tenang” tidak terwujudkan.

Namun di sisi lain, terdapat sejumlah orang yang hisup bermalas-malasan dan enggan berusaha dengan alasan sibuk mencari ilmu atau mereka beranggapan bahwa semua bentukk usaha tidak lepas dari subhat yang bisa merusak sikap zuhud dan tawakal. Padahal siapa yang menyangka bekerja untuk mencari nafkah bisa merusak tawakal, pasti kebutuhan sehari-hari akan dipasok melalui infaq, sedekah, hadiah dan berbagai bentuk patungan dan pemberian orang lain, bahkan terkadang mereka tidak segan-segan mencela orang mampu yang tidak mau membantunya.

Sungguh sangat naif bila kita lihat orang yang paham agama dan berahlaq mulia namun mempunyai kebiasaan yang meminta-minta, suka mengeluh, menjadi beban orang lain, bermalas-malasan serta menghadapi kenyataan hidup dengan hanya berpangku tangan. Betul dengan apa yang di katakan oleh Umar bin Khatab Ra., “Sungguh terkadang aku kkagum terhadap seseorang, namun setelah aku tanyakan apakah dia mempunyai pekerjaan, kalau mereka menjawab:’tidak.’ Maka orang tersebut jatuh harga dirinya di hadapanku.”

Sungguh tidak masuk akal, ada orang yang tidak pernah beranjak dari Masjid untuk berzikir dan i’tikaf, sementara keluarganya terlantar dan kebutuhan kehidupannya di pasok orang lain. Mana tanggung jawab sebagai orang yang paham agama kalau memang kebutuhan hidup terkumpul dari patungan teman-teman dekat dan para tetangga? Jawaban apa yang kita berikan di akhirat nanti bila ternyata kewajiban rumah tangga kita yang menunaikan orang lain (baik orang tua, mertua, teman dekat atau sanak kerabat) sementara kita masih mempunyai kekuatan untuk bekerja? Maka Imam syafi’i berkata: “Tidak halal harta sedekah bagi orang yang masih punya kekuatan untuk bekerja.”

Comments (0)

amalan_pelancar_rezeki[1]

Tags: , ,

7 AMALAN PELANCAR REZEKI

Posted on 05 August 2012 by admin

Setiap orang pasti mendambakan rezeki yang halal,baik,berkah, dan melimpah.Tentu, dengan seseorang tersebut mereka bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan untuk mendapatkannya, selain dengan bekerja keras dan ikhlas, tuntas dan cerdas, seseorang harus mengetahui amalan-amalan apasaja yang dapat memperlancar turunnya rezeki.

Pertama, Bertaubat dan memperbanyak istighfar. Allah SWT. Berfirman, “Maka Aku katakan kepada mereka: ‘Mohon ampunlah kepada tuhanmu, Sesungguhnya Ia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan mebanyakan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan dan mengadakan kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12).dengan dalil ini, Imam hasan Al-Basri selalu menganjurkan kepada orang yang datang kepadanya karena masalah kekeringan, kemiskinan, kemandulan paceklik dan ain sebagainya untuk membaca istigfar.
Rasulullah Saw. juga bersabda, “Barang siapa yang sering membaca istighfar, maka niscaya Allah akan menghilangkan segala kegundahan dan kesusahannya, serta dikaruniai rezeki yang tidak diduganya.” (HT. Abu Daud dan Ibnu Majah)
Kedua, bertaqwa. Yang dimaksud bertakkwa disini adalah menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhkan segala larangan-Nya. Maka, bila kedua syarat ini terpenuhi dalam diri seorang muslimn dia berhak mendapatkan apa yang telah dijanjikan Allah Swt, melalui Kitab-Nya dan Sunah Rasulul-Nya. Allah Swt. berfirman, “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak di sangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq:2-3)
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastiah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. AL-A,raf:96) Menurut Ibnu Abbas Ra. makanya adalah, Allah pasti akan menambahkan kebajikan serta memudahkan rezeki bagi mereka dalam segala hal.
Ketiga, tawakal. Makna tawakal menurut Imam Al-Ghajali adalah, menggantungkan hati kepada Allah semata. Jadi, tawakal adalah urusan hati sedangkan jasad ini beriktiar dalam mencari nafkah. Allah Swt.berjanji kepada mereka yang bertawakal kepada-Nya bahwa Ia akan mencukupkan segala kebutuhannya di dunia.
Allah Swt. berfirman, “Dan barang siapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”(QS. Ath-Thalaq:3).
Rasulullah Saw. bersabda, “Kalau seandainya kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, maka kamu akan dilimpahkan rezeki sebagaimana burung-burung yang diberi rezeki. Mereka terbang di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad)
Keempat, menfokuskan hidup untuk ibadah. Yaitu, hendaknya kita menjalani hidup ini dengan niat ibadah. bila kita mencari nafkah, niatkanlah untuk beribadah kepada Allah. Bila kita bersilaturahmi ke rumah temen, niatkanlah untuk ibadah. Dan seterusnya. Bila hidup kita tujukan dalam rangka beribadah kepada Allah, maka Allah telah berjanji untuk memberi kita kekayaan dan menjauhi kita dari kemiskinan.
Rasululllah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt. telah berfirman, ‘Hai bani Adam, konsentrasikanlah diri kamu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi hatimu dengan kekayaan dan aku penuhi tanganmu dangan rezeki! Hai Bani Adam, Janganlah kamu menjauhi Aku! Karena jika kamu berusaha menjauhi Aku, niscaya Aku akan penuhi hatimu dengan kemiskinan, dan aku akan isi tanganmu dengan kesibukan.” (HR. Hakim)
Imam Ibnu Hamzah berkata, “Silaturahim itu dapat terjalin dengan adanya hartam atau menolong ketika di butuhkan, mencegah dari bahaya, muka yang berseri-seri, dan dengan doa.” Itulah sarana silaturahim yang hendaknya kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Keempat, sedekah. Allah Swt. berfirman, “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pengganti Rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Sabda’:39)”
“Perumpaamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, dan tiap-tiap bulir seratus butir. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi setiap yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:261)
Betapapun sedikit apa yang kita sedekahkan dari apa yang Allah perintahkan kepada kita dan apa yang diperbolehkan-Nya, niscaya Dia akan menggantinya untuk kita di dunia, dan di akherat kita akan di beri pahala dan ganjaran. Ketujuh, berpagi-pagi dalam mencari nafkah. Rasulullah Saw. bersabda, “Ya Allah, berkahilah umatku di pagi hari mereka.” Maka doa Rasulullah Saw. ini pasti di kabulkan Allah.
Jika mengutus pasukan, maka Panglima Islam Shakhar Al-Ghamidi mengutusnya di pagi hari. Dia seorang pedagang yang memulai dagangannya di pagi hari, maka dia kaya raya. (HR. Abu Daud).
Di waktu pagi ini, kita temukan apa yang tidak kita temukan diwaktu lain, bahkan dalam kecerahan dan kesegaran udaranya. Allah menjadikan waktu ini sebagai berkah dalam rezeki. Bahkan sebagian ulama salaf apabila melihat salah satu anaknya tidur di pagi hari, maka ia akan membentaknya dan berkata, “Mengapa engkau tidur pada waktu di mana rezeki di bagi-bagikan?!”

Comments (0)


CHAT DENGAN STAFF KAMI:

Hendra
Iwan Setiawan
Handriana