Archive | September, 2013

berbakti kepada orang tua

Tags: ,

“Berikan Cintamu Kepada orang Tua”

Posted on 29 September 2013 by admin

Komarudin chalil

Direktur Utama PT. SIINNERGY INSAN SEJAHTERA

Jl. Trs. Logam No. 7A
Buah batu - Bandung Jawa Barat Indonesia

www.siinnergy.com

Cinta orang tua sepanjang masa, cinta anak sepanjang galah.” Master Cheng Yen pernah berkata,”2 hal yang tidak bisa ditunda adalah beramal dan berbakti kepada tua Anda”.

Konon ada sepasang suami istri lansia hidup di pedesaan di daerah terpencil. Sang suami adalah seorang profesor dan mantan dosen yang sudah pensiun 10 tahun lalu. Sejak 10 tahun pula pasangan tersebut hidup di desa, menjalankan aktifitas berkebun, membaca, jalan-jalan, dan seterusnya selalu bersama-sama.

Suatu hari, sang istri tiba-tiba meninggal dunia saat istirahat. Kenyataan tersebut sangat memukul sang profesor. Ia tak pernah menduga akan kehilangan satu-satunya teman hidup yang mencintai dan setia menemani di usia senjanya.

Dua minggu berlalu, tetapi sang profesor mulai bertingkah aneh. Ia membagi-bagikan bunga kepada para tetangga dan mengembalikan semua buku yang pernah ia pinjam. Ia bahkan menemui seorang notaris dan menitipkan surat wasiatnya.

Pada suatu malam, ia menulis surat wasiat lagi. Di hadapannya sudah tersedia sebotol racun yang akan segera ia tenggak agar dapat menyusul cintanya yang sudah pergi mendahului. Belum sempat ia meraih botol racun tersebut, tiba-tiba telponnya berdering.

Dengan terpaksa ia bangun dari tempat duduk dan meraih gagang telpon. Di seberang telpon ia mendengar suara yang sangat ia kenal. “Ayah, saya sekarang ada di bandara. Saya ingin pulang ke rumah dan mendampingi ayah,” ujar putri satu-satunya.

Profesor tersebut sangat bahagia mendengar kabar tersebut. Ia merasa masih disayangi dan dicintai. Serta merta ia mengurungkan niat minum racun. Suatu ketika ia bercerita kepada salah seorang temannya, “Sesuatu yang paling berkesan sehingga saya urung bunuh diri, bukanlah ilmu pengetahuan, dokter jiwa, atau kekayaan, melainkan perasaan dicintai.”

Suatu ketika nanti akan tiba saat kehadiran kita sangat dibutuhkan oleh orang tua, nenek dan kakek, atau siapapun yang telah merawat dan membesarkan kita. Bila saat tersebut tiba, mungkin mereka tak pernah mengaku atau berterus terang bahwa mereka sangat membutuhkan kehadiran kita.

Keadaan mereka mungkin mirip dengan keadaan kita sewaktu masih bayi dan sangat membutuhkan kasih sayang and perlindungan mereka. Sekarang mereka membutuhkan kita seperti kita dulu membutuhkan mereka untuk dapat bertahan hidup; mandi, makan, berpakaian dengan layak, dan lain sebagainya. Mungkin kita tak pernah ingat semua kebaikan mereka, tetapi kita harus pahami bahwa mereka telah mencurahkan kasih sayang dan perhatian terbaik untuk kita.

Seiring berjalannya waktu, orang-orang yang telah berjasa itu akan memasuki usia senja. Lalu apakah kita sudah mempersiapkan segala hal untuk membahagiakan dan memberikan rasa nyaman kepada mereka? Tentu saja kita akan memerlukan sejumlah dana, kesabaran atau kemampuan selalu bersikap baik kepada mereka. Mungkin akan terasa berat memberikan perhatian lagi kepada mereka, tetapi cobalah menyimak beberapa hal berikut ini agar kita selalu dapat mengingat perhatian dan kasih sayang mereka yang luar biasa.

  1. Ingatlah bahwa merekalah yang menjadikan diri Anda seperti sekarang ini. Mereka memperhatikan semua kebutuhan Anda, setidaknya sampai usia Anda 10 tahun. Ketika kita masih bayi, mereka tak segan mengganti popok, memandikan, menimang, dan kurang tidur karena harus menjaga Anda. Pikirkan bahwa sangat banyak yang telah mereka lakukan untuk Anda.
  1. Mereka selalu memberikan yang terbaik untuk Anda. Mereka memilih Anda hadir ke dunia dengan memberi Anda segala yang terbaik dengan sekuat tenaga dan seluruh kemampuan mereka. Adakah tanda cinta lain yang lebih penting dari semua itu?
  1. Mereka telah banyak berkorban agar Anda mendapatkan kehidupan yang lebih baik dibandingkan dengan kehidupan mereka sendiri. Apakah Anda sudah mengetahui dan menghargai hal itu? Tidakkah Anda ingin melakukan hal yang sama untuk mereka?

Saya hanya ingin menyampaikan bahwa mereka telah berjuang dan berkorban lebih banyak dari yang pernah Anda dengar atau ketahui. Mereka berusaha keras agar kehidupan Anda relatif lebih mudah. Tidakkah Anda ingin membalas segala yang telah mereka berikan? Sebab mereka berhak mendapatkan kehidupan yang layak, setidaknya kehidupan yang sama seperti yang telah mereka usahakan untuk Anda.

Banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai bentuk cinta kita kepada orang tua atau orang-orang yang telah membesarkan kita. Salah satunya adalah dengan mengajak mereka berkomunikasi. Gunakanlah kata-kata yang baik, dan jangan pernah menggunakan kata-kata negatif atau kasar karena pasti hal itu akan membuat hati mereka terluka.

Berikan yang terbaik untuk mereka dengan sepenuh hati. Luangkan waktu bersama, bersikap menyenangkan serta menentramkan hati mereka. Jangan segan jika harus mengagendakan waktu atau biaya ekstra untuk menyenangkan atau untuk perawatan kesehatan ketika mereka sakit.

Mulailah memberikan yang terbaik untuk mereka sekuat tenaga, sebagai bentuk cinta kita terhadap mereka. Sebab jika mereka sudah tidak ada, Anda tidak akan pernah lagi mendapatkan kesempatan membalas cinta kasih mereka. Sekali lagi, jika bukan dari sekarang, belum tentu esok masih ada kesempatan!

Di berdayakan oleh | Pondok Yatim | Majalah Anak Yatim Al Hilal | Rumah Tahfidz Al Hilal |Download Majalah Edisi 2|

Comments (0)

kehidupan[1]

Tags: ,

NIKMATI PROSES HIDUP

Posted on 28 September 2013 by admin

Oleh: Kemas Mahmud Al Hanif

 

Jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apapun, bersegeralah untuk beramal karena kita tidak pernah tahun dari semua yang kita lakukan yang manakah yang dapat membuat kita bisa berarti dan yang terpenting bisa bernilai di hadapan Alloh SWT. Tidak berbeda dengan dosa. Jangan pula meremehkan dosa kecil karena bila ia dilakukan terus-menerus akan menjadi besar, menumpuk dan membuat kita terkejut. Kebermaknaan dan keberkahan usia kita tidak menjadi kumpulan angka-angka semata dapat terbentuk dari kumpulan kebaikan-kebaikan kecil dan di anggap sederhana. Ada sebuah pribahasa sunda “cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok” yang artinya “tetesan air menimpa batu lambat laun menjadi lubang” atau sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit. Kadangkala harus menjadi sebuah perenungan kembali bagi kita dalam mengatur langkah agar hidup ini semakin indah untuk di jalani.

Sekali lagi, terkadang sesuatu yang kecil itulah yang menjadi hal yang paling menentukan. Anda mungkin pernah mendengar nama salah seorang pendaki gunung terhebat dalam sejarah yaitu Sir Edmun Hillary, beliau adalah orang pertama kali menaklukan gunung Everest, puncak tertinggi Pegunungan Himalaya pada tanggal 29 Mei 1953. Ketiaka berhasil membukukan namanya dalam sejarah dengan prestasi tersebut, para wartawan pernah dibuat terheran-heran oleh Sir Edmun Hillary ketika mereka mencoba menyelidiki sesuatu yang paling ditakutinya ketika melakukan pendakian ke gunung Everest tersebut.

Dalam sebuah wawancara , Sir Edmun Hillary mengatakan bahwa ia tidak pernah takut pada binatang buas, jurang yang curam, bongkahan es raksasa atau padang pasir yang luas dan gersang sekalipun. Namun jawabannya sangat di luar dugaan, ternyataan dalam pendakian tersebut, beliau takut dengan sebutir pasir masuk di sela-sela jari kakinya. Beliau berpendapat bahwa hal tersebut bisa menjdi awal malapetaka karena sebutir pasir bisa masuk ke kulit kaki atau menyelusup lewat kuku. Lama-lama jari kaki terkena infeksi lau membusuk. Tanpa sadar kaki pun tidak bisa digerakkan. Itulah malapetaka bagi seorang penjelajah sebab dia harus ditandu.

Sekali lagi, Sir Edmun Hillary tidaklah takut pada harimau atau binatang buas lainnya karena secara naluriah binatang buas sebenarnya takut menghadapi manusia. Sedangkan untuk menghadapi jurang terjal, gunung es atau padang pasir, seorang penjelajah pasti sudah punya persiapan yang memadai. Tetapi jika menghadapi sebutir pasir yang akan masuk ke jari kaki, seorang penjelajah jarang mempersiapkannya, bahkan cenderung mengabaikannya.

Maka segeralah untuk melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, lalu nikmati prosesnya dengan kesabaran dan ketekunan. Tiada istilah menunda kebaikan sekecil apapun, dan tidak boleh menyerah serta berputus asa. Berbuatlah dengan apa yang mampu kita lakukan. Meski namamu tak menghiasi media, atau kisahmu tak banyak orang yang tahu, namun di hadapan Alloh bisa begitu bermakna, walaupun kecil dan sederhana dalam pandangan manusia.

Di berdayakan oleh | Pondok Yatim | Majalah Anak Yatim Al Hilal | Rumah Tahfidz Al Hilal |Download Majalah Edisi 2|

 

Comments (0)

KURBAN[1]

Tags: , , ,

Definisi dan Hukum Berqurban

Posted on 17 September 2013 by admin

Qurban adalah binatang ternak yang disembelih pada harihari Idul Adha untuk menyemarakkan hari raya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Berqurban merupakan salah satu syiar Islam yang disyariatkan berdasarkan dalil Al Qur’an, Sunnah Rasulullah S.A.W dan Ijma’ (kesepakatan hukum) kaum

muslimin.

“Maka shalatlah karena rabbmu dan sembelihlah qurban!” (QS. Al Kautsar: 2)

“Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya shalatku, nusuk/ibadah qurbanku, hidup dan matiku hanya untuk Allah rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, aku diperintahkan seperti itu dan aku adalah orang yang pertama kali berserah diri.” (QS. Al An’am: 162)

Makna nusuk dalam ayat di atas adalah menyembelih hewan, demikian penjelasan dari Said bin Jubair. Ada pula yang menyatakan bahwa makna nusuk adalah semua bentuk ibadah, salah satunya adalah menyembelih hewan. Pendapat ini bersifat lebih luas.

“Dan untuk setiap umat Kami tetapkan ibadah qurban, supaya mereka mengingat nama Allah terhadap rizki yang telah Allah karuniakan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka sesembahan kalian itu adalah sesembahan yang satu, maka hanya kepada-Nyalah kalian berserah diri.” (QS. Al Hajj: 34)

Dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Anas bin Malik , beliau berkata:

“Nabi S.A.W berqurban dengan dua ekor kambing kibasy yang berpenampilan sempurna. Beliau sembelih sendiri dengan tangannya. Beliau membaca bismillah, bertakbir dan meletakkan salah satu kaki beliau pada lambung kambing tersebut.”

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata:

“Nabi S.A.W tinggal di Madinah selama sepuluh tahun dan selalu berqurban.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, beliau menyebutnya hadits hasan)

Dari Uqbah bin ‘Amir R.A, sesungguhnya Nabi S.A.W membagikan hewan qurban kepada para sahabat-nya. Ternyata Uqbah bin ‘Amr mendapat bagian ternak yang masih kecil, belum dewasa (jadzah). Maka ia berkata,

“Wahai Rasulullah, saya mendapat bagian berupa jadz-ah?” Rasulullah bersabda,“ Berqurbanlah dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Al Bara’ bin ‘Azib , sesungguhnya Nabi  bersabda:

“Barangsiapa menyembelih qurban setelah shalat ‘Ied maka ibadah qurbannya telah sempurna dan apa yang diperbuatnya itu telah sesuai dengan sunnah umat Islam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi S.A.W dan para sahabat R.A berqurban, bahkan Nabi bersabda bahwa qurban merupakan sunnah kaum muslimin yang berarti kebiasaan umat Islam. Oleh karena itu, umat Islam bersepakat bahwa berqurban itu disyariatkan, sebagaimana keterangan beberapa ulama. Namun terjadi perselisihan pendapat di antara para ulama, apakah qurban itu sunnah muakkad ataukah merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan? Mayoritas ulama berpendapat bahwa qurban itu hukumnya sunnah muakkad. Ini adalah pendapat madzhab Syafi’i, Malik dan Ahmad, serta merupakan pendapat yang masyhur dari Imam Malik dan Imam Ahmad. Pendapat yang lain menyatakan bahwa berqurban itu hukumnya wajib. Ini adalah pendapat madzhab Abu Hanifah dan salah satu dari dua riwayat dari Imam Ahmad. Pendapat ini dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, beliau berkata, “Ini merupakan satu dari dua pendapat dalam mazhab Malik atau bahkan merupakan pendapat yang lebih dikenal pada madzhab Imam Malik.” Menyembelih qurban lebih utama daripada sedekah uang senilai harga hewan qurbannya, karena beberapa alasan:

  • Menyembelih qurban merupakan amal Nabi S.A.W dan para sahabat.
  • Menyembelih qurban merupakan salah satu syiar Allah Ta’ala. Oleh karena itu jika orang lebih memilih untuk bersedekah niscaya syiar ini akan hilang.
  • Jika bersedekah seharga hewan qurban lebih utama daripada menyembelih hewan qurban tentu Nabi S.A.W telah menjelaskan kepada umat-nya dengan perkataan atau perbuatan beliau, karena Nabi selalu menjelaskan hal-hal yang terbaik untuk umatnya.
  • Bahkan jika bersedekah itu keutamaannya sama dengan berqurban, tentu hal ini juga telah dijelaskan oleh Nabi, karena bersedekah jauh lebih mudah daripada menyembelih qurban. Sebagaimana diketahui Nabi  tidak akan lalai untuk menjelaskan amal yang lebih ringan dilakukan oleh umatnya namun memiliki keutamaan yang sama dengan amal yang lebih berat. Di masa Nabi S.A.W pernah terjadi kelaparan, maka Nabi bersabda:

“Barangsiapa di antara kalian berqurban, maka setelah tiga hari tidak boleh di dalam rumahnya masih terdapat sisa hewan qurban.” Pada tahun berikutnya, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami harus berbuat sebagaimana yang telah kami lakukan pada tahun kemarin?” Maka Nabi bersabda, “Makanlah daging hewan qurban, berilah makan kepada orang lain dan simpanlah. Karena pada tahun kemarin, orangorang tengah mengalami kesulitan, maka aku ingin agar kalian turut membantu mereka pada tahun itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

bnul Qayyim rahimahullah berkata, “Menyembelih hewan qurban pada waktunya lebih utama daripada bersedekah dengan uang senilai harga hewan tersebut. Oleh karena itu jika ada orang yang bersedekah dengan uang yang bernilai jauh lebih besar dibandingkan harga kambing denda (dam) —karena melaksanakan ibadah haji yang didahului oleh ibadah umrah yang juga dilakukan di masa haji (haji tamattu’) dan melaksanakan umrah sekaligus dengan ibadah haji dalam satu prosesi (qiran)— maka sedekah tersebut tidak bisa menggantikan dam. Demikian juga halnya dalam masalah berqurban.”

Hukum asal qurban adalah disyariatkan untuk orang-orang yang masih hidup, sebagaimana Rasulullah  dan para sahabat berqurban untuk diri dan keluarga mereka. Adapun pemahaman sebagian orang awam bahwa qurban itu khusus dikenakan bagi orang yang sudah mati adalah anggapan yang tidak berdalil.

Menyangkut hukum berqurban untuk orang yang sudah meninggal ada tiga macam:

a. Meniatkan agar orang yang sudah meninggal mendapatkan pahala berqurban bersama dengan orang yang masih hidup.

Sebagai misal, ada seorang yang berqurban untuk diri dan keluarganya. Orang tersebut meniatkan bahwa keluarga yang dia maksudkan mencakup yang masih hidup maupun yang telah meninggal.

Dalil yang membolehkan hal ini adalah perbuatan Nabi S.A.W berqurban untuk diri beliau sendiri dan sekaligus pula diperuntukkan bagi keluarga beliau. Adapun yang tercakup dalam keluarga yang beliau maksudkan adalah anggota keluarga beliau yang telah meninggal.

b. Berqurban untuk orang yang sudah meninggal dalam rangka melaksanakan wasiatnya. Dalil yang membolehkan hal ini adalah

firman Allah: “Barangsiapa mengganti wasiat setelah ia mendengarnya maka dosanya ditanggung oleh orangorang yang menggantinya. Sesungguhnya Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

(QS. Al Baqarah: 181)

c. Berqurban untuk orang yang sudah meninggal secara khusus sebagai bentuk ibadah tersendiri yang dilakukan oleh orang yang masih hidup atas inisiatif sendiri atau tanpa wasiat. Hal ini diperbolehkan, bahkan para ulama bermadzhab Hambali (Hanabilah) menyatakan bahwa pahalanya akan sampai ke orang yang sudah meninggal tersebut dan bisa merasakan manfaatnya. Pendapat ini berdasarkan analog dengan sedekah. Namun demikian dalam pendapat kami pribadi bahwa mengkhususkan qurban untuk orang yang sudah meninggal bukanlah sunnah Nabi, karena Nabi  tidak pernah berqurban untuk salah satu anggota keluarga beliau yang telah meninggal secara khusus. Beliau tidak berqurban untuk paman beliau, Hamzah. Padahal Hamzah termasuk kerabat beliau yang sangat mulia bagi beliau. Demikian pula, beliau tidak pernah berqurban untuk anak-anak beliau yang telah meninggal saat beliau masih hidup, yaitu tiga anak wanita yang sudah menikah dan tiga anak laki-laki yang masih kecil. Begitu pun, beliau tidak pernah berqurban untuk Khadijah isteri beliau yang tercinta. Juga tidak terdapat keterangan bahwa ada seorang sahabat di masa Nabi yang berqurban khusus untuk anggota keluarganya yang telah meninggal. Hal lain yang termasuk kesalahan dalam pandangan kami adalah perbuatan sebagian orang yang berqurban untuk orang yang sudah meninggal, pada tahun pertama kematiannya.

Qurban seperti ini mereka sebut sebagai qurban hufrah. Mereka berkeyakinan bahwa pahala qurban tersebut hanya dikhususkan untuk orang yang sudah meninggal saja. Jadi dalam qurban tersebut tidak boleh ada orang lain yang turut serta mendapatkan pahala qurban bersama dengan orang yang sudah meninggal tersebut.

Yang juga termasuk kesalahan adalah berqurban untuk orang yang sudah meninggal dengan inisiatif sendiri (tanpa wasiat) atau karena tuntutan wasiat, akan tetapi tidak pernah berqurban untuk diri sendiri dan keluarganya. Padahal jika mereka mengetahui bahwa seseorang yang berqurban dengan hartanya untuk diri dan keluarganya, maka hal ini sudah mencakup anggota keluarga yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Sekiranya mereka mengetahui hal ini tentu mereka tidak akan melakukan perbuatan sebagaimana yang telah mereka lakukan dan meninggalkan perbuatan yang sudah dicontohkan oleh Nabi. S.A.W

Daftar sekarang juga “Berkurban dobel pahala dan multi MANFAAT”

Comments (0)

Lailatuqadar

Tags: ,

Ciri Hamba Yang Mendapat Lailatul Qodar

Posted on 15 September 2013 by admin

ALKISAH di sebuah Masjid di Bandung ada dua orang yang beritikaf. Keduanya sangat bersungguh-sungguh melaksanakan itikaf karena berharap mendapatkan malam lailatul qodar. Orang pertama,bercerita ketika sedang beritikaf dia mendapatkan pengalaman spiritual. Ketika itu malam tiada angin, dan paginya ada rembulan berwarna putih, ciri-ciri lailatul qadar. Kemudian dia merasakan sesuatu yang luar biasa.

Sedangkan orang kedua, dia tidak merasa mendapatkan pengalaman spiritual yang menggetarkan atau melihat sesuatu yang luar biasa seperti cahaya rembulan yang sejuk tapi tidak menyilaukan. Hanya saja beliau khusu mengisi malam-malam 10 hari terkahir dengan ibadah.

Singat certita setelah selesai itikaf tersebut, tiga bulan kemudian terjadi perbedaan antara kedua orang tresebut, orang yang pertama melanggar perintah Allah atau tidak patuh pada larangan-Nya. Sedangkatorang kedua yang merasa tidak mendapat lailatur qadar, dia tetap menjadi orang yang saleh dan bertakwa.

Jadi, siapa yang sebenarnya mendapat lailatul qadar ?

Sesunguhnya buah dari ibadah adalah ahsanul akhlak (ahlak yang baik). Jika ada orang yang nerasa sudah beribadah dengan baik bahkan ketik aramadhan mendapatkan malam lailatul qodar tetapi ahlaknya tidak berubah tentunya dipertanyakan dengan kualitas ibadahnya. Rasulullah SAW bersabda,” Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq.” Artinya, Sesungguhnya aku diutus Tuhan untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.

Karena itu, output tujuan lailatul qadar tentu saja mendapatkan rahmat dan barokah yang dijelaskan para ulama, tapi pada akhirnya adalah akhlak kita.

Kita sangat bangga dan salut banyak yang itikaf, membaca Al Qur’an dan berdzikir supaya mendapatkan rahmat dan barokahnya di puncak bulan suci Ramadhan. Sesungguhnya yang pasti adalah puncak bulan suci Ramadhan ditunggu dan dinantikan oleh orang yang beriman dan bertakwa, dan kita harus mendapatkannya. Tetapi apakah kita mendapatkan perubahan setelah Ramadhan, setelah kita mengisi sepuluh hari terakhir dengan itikaf?

Berikut ini sebagian tanda-tanda orang yang mendapat lailatul Qadar yang diambil dari Ceramanya Ustad H Ahmad Zaky :

  1. Dia senantiasa akan berusaha ingin menjadi yang terbaik di mata Allah SWT begitu pula dengan sesama manusia. Selalu mengerjakan perintah Allah SWT dan melakukannya dengan cara terbaik di mata Allah SWT.
  2. Orang yang berhasil mendapatkan Lailatul Qadar akan selalu merasa kurang khususnya dalam soal beribadah. Selain ibadah wajib yakni sholat lima waktu, ia juga tidak pernah meninggalkan ibadah sunnah seperti tahajud dan tarawihnya tidak pernah absen.
  3. Dalam kehidupan sehari-hari baik dengan atasan maupun bawahan, ia selalu menjadi orang yang rendah hati dan bersikap sewajarnya saja. Tidak merasa sombong dan angkuh khususnya kepada sesama manusia.
  4. Orang yang mendapatkan Lailatul Qadar akan terlihat lebih bersinar wajahnya dan enak untuk dipandang. Namun tanda-tanda ini juga hanya bisa dirasakan dan dilihat oleh orang-orang yang senantiasa selalu dekat kepada Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW diutus ke bumi tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menyempurnakan ahlak manusia. Sehingga serajin apapun seseorang menjalankan ibadah kepada Allah SWT tidak bernilai apa-apa jika tidak memiliki ahlak yang mulia. Karena pada dasarnya tujuan ibadah itu sendiri adalah untuk membenahi ahlak manusia. Ahlak itu sendiri diperlukan dalam upaya mewujudkan perdamaian di muka bumi karena salah satu arti Islam adalah perdamaian : damai kepada diri sendiri, damai kepada orang lain dan damai kepada Allah Penguasa Alam Semesta..


By Pondok Yatim | Pengasuh Anak Yatim

Comments (0)


CHAT DENGAN STAFF KAMI:

Hendra
Iwan Setiawan
Handriana