Archive | January, 2013

KLYMPA

Tags: , ,

Keluarga yang mendapat pertolongan Allah

Posted on 26 January 2013 by admin

Rumah surgawi adalah rumah yang diterangi petunjuk Ilahi. Cahaya itu berasal dari dzikir yang dilafazkan, Al-Quran yang dibacakan,

maksiat yang ditahan, dan kebaikan yang dijalankan. Rasulullah Saw. bersabda, “Perumpamaan rumah yang di dalamnya disebutkan nama Allah dan rumah yang di dalamnya tidak disebutkan nama Allah seperti orang hidup dan orang mati.”

Beliau menganggap rumah orang yang berdzikir seperti rumah yang hidup dan semarak, sedangkan rumah orang yang lalai dan tidak berdzikir sama dengan rumah orang mati atau

kuburan, rumah kegelapan, suram, gersang, dan jauh dari rahmat dan keberkahan.

Mungkin kita akan menemukan sebuah rumah sederhana yang dihuni oleh orang yang taat, ternyata jauh lebih menyejukkan dan leb,ih awet bangunannya daripada sebuah rumah mewah yang cepat rapuh, karena diisi dengan kemaksiatan dan kelalaian. Jangan kita bingung akan hal itu. Karena segala sesuatu ada di tangan Allah, dan Allah sangat menyukai orang-

orang yang taat. Yaitu, orang-orang yang telah menghiasi rumahnya dengan dzikrullah.

Rumah dzikrullah walaupun berukuran kecil, tapi dada orang-orang yang ada di dalamnya terasa lapang.

Dzikrullah membuat yang sempit menjadi lapang, membuat hati yang keruh menjadi jernih, membuat akal yang gelap gulita menjadi terang benderang, pintu keinginan berbuat maksiat menjadi tertutup.

Kita dapat mengerjakan shalat sunah di rumah kita atau berdzikir di waktu senggang kita atau membaca Al-Quran. Jangan sampai rumah kita seperti kuburan yang kosong oleh dzikir, meskipun dzikir itu sangat baik dilakukan di dalam masjid. Apa salahnya sambil memasak, kita berdzikir, mengulang hafalan Al-Quran, atau mendengarkan bacaan Al-Quran dilantunkan. Apa salahnya juga, sambil menyapu rumah, kita mengingat Allah.

Tentu kita mampu melakukannya. Apalah susahnya “Subhanallah…” atau “Astaghfirullah…” atau dzikir-dzi-kir lainnya. Hanya orang yang hatinya lalai dan disibukkan oleh hawa nafsu yang tidak mampu berdzikir.

Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (al-Munafiqun: 9) Rumah dzikrullah adalah rumah yang akan mendatangkan kebaikan bagi penghuninya. Rumah inilah yang

diibaratkan rumah surgawi.

‘’Hai orang-orang yang beriman,

peliharalah dirimu dan keluargamu

dari api neraka…’’ (At-Tahrim:6)

Comments (0)

Banjir-jakarta-bundaran-HI[1]

Tags: ,

Mari Kita Tafakuri Musibah Banjir

Posted on 19 January 2013 by admin

Oleh: Dr HM Harry Mulya Zein

Musibah banjir yang melanda seluruh wilayah Kota Jakarta dan Tangerang membuat panik semua warga. Sepertinya musibah banjir di negeri ini selama kurun waktu lima tahunan, adalah musibah yang teramat parah.

Kondisi ini pada dasarnya tidak luput dari prilaku manusia. Jika kita mau membuka kembali Alquran, tampak jelas bahwa bencana alam dan krisis lingkungan akibat dari ulah merusak sebagian dari umat manusia.

Dalam sebuah ayat Allah berfirman, ”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar” (QS Ar-Rum[30]:41).

Ayat ini secara eksplisit menegaskan bahwa kerusakan di muka bumi disebabkan ulah tangan manusia. Bencana yang datang silih berganti bukan fenomena alam. Akan tetapi karena prilaku merusak manusia sendiri yang telah merusak alam ciptaan Allah.

Para pemikir Timur dan Barat kontemporer memandang masalah utama kerusakan parah Bumi akibat terjadinya pemisahan serius antara sains dan dari spiritualitas dan nilai-nilai moral. Para pemikir menilai krisis lingkungan yang terjadi dewasa ini menunjukkan bahwa sebagian besar negara-negara dunia dilanda problem nilai dan spiritualitas.

Fritjof Capra memandang krisis lingkungan bermuara pada kesalahan cara pandang manusia modern terhadap alam semesta. Manusia modern pada umumnya masih menganut paradigma mekanistis dan reduksionistis terhadap alam semesta.

Implikasinya, alam sebagai objek yang selalu diekspolitasi secara berlebih. Oleh karena itu, pandangan manusia harus diubah menuju paradigma yang holistik dan ekologis.

Bahwa merusak alam dan lingkungan merupakan perbuatan dosa dan pelanggaran karena mengakibatkan gangguan keseimbangan di bumi.

Ketiadaan keseimbangan itu, mengakibatkan siksaan kepada manusia. Semakin banyak perusakan terhadap lingkungan, semakin besar pula dampak buruknya terhadap manusia, termasuk akan berdampak kepada manusia yang tidak berdosa disekitarnya.

Dalam Islam sudah sangat terang, bumi, alam, lingkungan diciptakan Allah swt bukan tanpa arti. Penciptaan alam, lingkungan, bumi merupakan tanda keberadaan Allah, Tuhan Yang Maha Pencipta. Sebagaimana firman Allah swt dalam Alquran bahwa terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya di bumi ini.

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin,”(QS Adz-Dzariyat [51]:20).

Dalam Al-Quran, Allah menyatakan bahwa alam diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Allah berfirman,”Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya.

Sesungguhnya pada demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir,”(QS Al-Jatsiyah [45}:13). Ayat inilah yang menjadi landasan teologis pembenaran Pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan manusia. Islam tidak melarang memanfaatkan alam, namun ada aturan mainnya. Manfaatkan alam dengan cara yang baik (bijak) dan manusia bertanggungjawab dalam melindungi alam dan lingkungannya serta larangan merusaknya.

Manusia sebagai khalifah (wakil atau pengganti) Allah, salah satu kewajiban atau tugasnya adalah membuat bumi makmur. Ini menunjukkan bahwa kelestarian dan kerusakan alam berada di tangan manusia.

Kini manusia harus lebih ramah terhadap alam semesta melebihi sebelumnya. Untuk mewujudkan kedamaian dan keseimbangan dengan lingkungan, manusia harus memiliki ikatan yang kokoh dengan pencipta alam semesta.

Orang yang mematuhi aturan Ilahi, maka ia juga memiliki hubungan yang baik dengan sesama manusia dan alam semesta.

Merusak dan mencemari lingkungan menyebabkan terjadinya berbagai bencana seperti banjir saat ini. Untuk itu, Islam mengharamkan setiap tindakan yang merusak alam. Dalam Islam, kerusakan lingkungan juga mengakibatkan kerusakan sosial yang menyebabkan terjadinya perampasan terhadap hak jutaan orang. Saatnya menjaga kelestarian lingkungan. REPUBLIKA.CO.ID,

Comments (0)


CHAT DENGAN STAFF KAMI:

Hendra
Iwan Setiawan
Handriana