Tag Archive | "Qurban Doble PAhala"

QURBAN-HEWAN-QURBAN-1

Tags: , , ,

BERQURBAN KARENA CINTA

Posted on 07 October 2013 by admin

Di sadur dari: Muhsin Hariyanto

“Ego” seringkali mengalahkan semuanya, dan bahkan tak jarang menjadi berhala yang tak terkalahkan. Bisa jadi kita – dalam keseharian kita – dikalahkan oleh ego kita, dan kita tak pernah merasa kalah karena kita menikmatinya, hingga kita menjadi budaknya tanpa daya. Ego, dalam kehidupan kita telah menjadi – semacam – tuhan yang terlalu kita cintai, kita hormati dan kita kagumi. Dan akhirnya kita pun terjebak dalam sikap “idolatry”. Menuhankan sesuatu yang bukan Tuhan.

Kisah Ibrahim a.s. telah menjadi cermin, bagaimana proses pencarian tuhan yang sessungguhnya berujung pada kesediaan untuk berkurban, mempersembahkan anak laki-laki yang sangat dicintainya untuk menunjukkan cintanya kepada Allah, Tuhan Yang Sesungguhnya. Dia (Ibrahim a.s.) tak ingin menuhankan anaknya, karena cintanya. Ia benar-benar hanya ingin mencintai yang tercinta, meskipun harus mengurbankan sesuatu yang sangat dicintainya, demi (untuk) menjadi ruh tauhidnya. Dia persembahkan Ismail – anak laki-laki tercintanya – untuk mewujudkan cintanya kepada Tuhan yang harus dicintainya lebih daripada cintanya kep-ada apa dan siapa pun, termasuk anak lelakinya. Dia telah berhasil melepaskan “ego”-nya demi cintanya kepada Tuhan Yang Dicintainya.

Kisah Ibrahim a.s. ini ternyata juga berlaku untuk Yusuf a.s., yang sanggup mengalahkan egonya ketika diprovokasi oleh Zulaikha, perempuan cantik yang bisa jadi menggetarkan syahwat setiap laki-laki yang dekat dengannya, untuk sekadar berbuat sesuatu yang diasumsikan dapat memuaskan dahaga setiap anak Adam.

Yusuf a.s. memang seorang lelaki, tetapi bukan sekadar lelaki yang mudah terkalahkan oleh setiap jebakan egonya, karena masih ada yang dianggap lebih penting olehnya daripada sekadar mengikuti syahwat kelelakiannya. Yusuf a.s. sadar bahwa ada yang harus lebih dikagumi, dicintai, dihormati dan ditaati daripada sekadar seorang perempuan secantik Zulaikha, Dialah Allah Sang Kekasih Abadi. Dan di saat itu pula nuraninya seolah berkata: “Innî akhâfullâh” (Aku takut kepada Allah), dan oleh karenanya ia tinggalkan Zulaikha seorang diri.

Lain halnya dengan cerita Adam-Hawa yang menyisakan sebuah ‘ibrah (pelajaran berharga), bahwa di ketika ego manusia mengalahkan nuraninya, maka tak seorang pun bisa mengelak dri godaan setan. Saat itu iblis menjadi pemenang, dan keduanya (Adam-Hawa) terpurik menjadi orang yang zalim, atau lebih tepat: : “mezalimi diri”, dan harus berhadapan dengan sebuah risiko berupa azab Allah yang diperuntukkan bagi setiap orang yang bersalah, karena terkalahkan oleh “ego”-nya.

Kita – umat manusia ini – kapan pun an di mana pun bisa menjadi Ibrahim-ibrahim, Yusuf-yusuf yang lain yang telah memenangkan pertarungan meealawan ego kita. Tetapi, juga bisa menjadi Adam-Hawa yang yang lain yang pernah terekalahkan oleh ego kita, menjadi santapan empuk para setan yang tidak akan pernah berhenti menggoda dari hal paling remeh sampai hal-hal penting yang yang sangat memerlukan perhatian.

Perhatikan salah firman Allah berikut:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS al-Hajj, 22: 37)

Pernahkan kita berkontemplasi sejenak untuk merenungkan kembali apa yang pernah kita lakukan? Di ketika kita berkurban, sudahkan kita berkurban karena Allah, atau sedikit banyak kita masih tergerak untuk melakukannya karena motif-motif yang lain, hingga niat kita mendua? Akhirnya keikhlasan kita pun tergores, karena sikap riya’ kita yang tiba-tiba muncul, mengendalikan sikap kita dan membuat kita terjerembab dalam “syirik kecil“ berupa ketidak-ikhlasan dalam berkurban.

Kurban, atau yang lebih tepat ditulis dengan transliterasi qurban, adalah sebuah istilah yang – bila dikembalikan kepada makna aslinya – bermakna “kedekatan atau pendekatan”, yang ketika dikaitkan dengan ibadah kita bermakna: “upaya pendekatan diri seorang hamba kepada Khaliq-nya”. Simbolnya bisa berupa “penyembelihan hewan kurban”, sebagaimana yang dilakukan oleh umat Islam pada waktu hari raya “Idul Adha”, atau – sebenarnya – bisa dengan simbol lain yang tidak harus berupa penyembelihan hewan.

Mempersembahkan “persembahan” kepada tuhan-tuhan adalah keyakinan yang dikenal manusia sejak lama. Dari kisah dua orang bersaudara — Habil dan Qabil (Anak Adam) — yang berakhir dengan tragis, berupa pembunuhan oleh yang dikuasai oleh ego-nya (Qabil), yang oleh karenanya tidak diterima amalnya oleh Allah, terhadap yang ikhlas berkurban karena Allah ( Habil). Kisah itu menandai bahwa “qurban“ seorang anak manusia akan mendapatkan ridha (diterima ) oleh Allah ketika dilakukan dengan ikhlas berlandasan pada ketakwaannya. Sebaliknya sehebat apa pun simbol pengurbanan seorang anak manusia, di ketika keikhlasan dan ketaqwaan itu tidak menandai tindakannya, maka Allah pun tidak akan bersedia menerimanya. Seekor domba, yang dipersembahkan dengan keikhlasan dan ketakwaan untuk berkurban, nilainya jauh melampai seratus ekor sapi atau onta yang dipersempahkan dengan sikap riya’. Dan oleh karenanya, kenapa Ibrahim a.s. mendapatkan kemuliaan dari Allah ketika dia jadikan Ismail sebagai instrumen pengurbanan, dan kemudian diganti oleh Allah dengan seekor qibas (salah satu jenis kambing yang menjadi simbol pengurbanannya)? Tentu saja bukan karena besar-kecil-nya simbol (instrumen) yang dipersembahkan. Semua terjadi sebagai konsekuensi dari keikhlasan dan ketakwaan Ibrahim a.s. kepada sang Khaliq. Dia (Ibrahim a.s.) mendekat kepada Allah dengan ”semangat pengurbanannya”, dan Allah pun mendekat karena keikhlasan dan ketakwaan Ibrahim a.s. kepada-Nya. Hingga karunia-Nya mengalir kepada Bapak-Anak (Ibrahim-Ismail) yang dengan sikap khanif (lempang)-nya memenuhi panggilan Allah untuk berkurban.

Kisah Ibrahim a.s. memang tidak sama dengan kisa Yusuf a.s., tetapi memiliki kesamaan nilai. Ada universal value (nilai-universal) yang bisa kita pahami dalam dua peristiwa yang berbeda itu, yaitu: “kemampunan untuk menundukkan ego“. Keduanya sama-sama berkemampuan untuk melawan godaan setan yang membujuknya dengan simbol yang berbeda, tetapi memiliki substansi yang sama. Ibrahm a.s. dan Yususf a.s.. sama-sama memiliki “rasa cinta penuh ketakwaan terhadap tuhannya “ yang memandunya untuk mengatakan “tidak“ terhadap godaan, dengan tetap berpegang teguh dengan hablulllah (tali-Allah), dan oelh karena sama-sama diselamatkan oleh Allah dan berhasil menjadi orang yang ridha untuk berdekatan dengan Allah, dan mendapatkan ridha (dari Allah) untuk dekat dengan-Nya. Keduanya menjadi hamba Allah selalu dekat dengan-Nya dan mendapatkan kedekatan dari-Nya karena semangat pengurbanannya dengan simbol-simbol pengurbanan yang berbeda, tetapi dengan keikhlasan dan ketakwaan yang sama.

Dalam konteks “qurban“ kita – umat Islam – pada hari raya idul Adha dan hari-hari tasyri’ di setiap tahun, Islam memoperkenalkan dua nilai penting dalam ibadah ini. Nilai kesalehan vertikal untuk beribadah kepada Allah, yang secara historis melestarikan kejadian penggantian “qurban“ nabi Ibrahim a.s. dengan seekor domba dan nilai kesalehan horisontal, berupa sedekah kepada siapa pun yang membutuhkan, meminta dan pantas untuk diberi.

Jadi esensi “qurban“ kita setiap tahun, bukanlah “penyembelihan hewan“, yang seringkali menjadi bahan yang diperdebatkan, tetapi semata-mata “upaya pendekatan diri kepada Allah dengan simbol-simbol yang hewan qurban“, yang semuanya – seharusnya – kita orientasikan hanya untuk mencari ridha Allah semata-mata. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh Allah SWT dalam QS al-Hajj, 22: 37 di atas.

Dari (semangat) kurban yang semacam itulah, sebagaimana Ibrahim a.s. dan siapa pun yang meneladaninya, kita menjadi semakin cinta kepada Allah, dan Allah pun semakin cinta dengan diri kita.

Pesan Hewan Qurban

Di berdayakan oleh | Pondok Yatim | Hewan qurban | Berqurban |Download Majalah Edisi 2|

Comments (0)

QURBAN-HEWAN-QURBAN

Tags: , ,

SEBAGIAN HUKUM QURBAN DAN SYARI’ATNYA

Posted on 07 October 2013 by admin

Allah mensyariatkan berkurban dengan firman-Nya :

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ [ الكوثر : 2 ]

Maka sholatlah untuk Robbmu dan sembelihlah (Al Kautsar 2)

Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya“ ( Al Hajj 36 )

Berkurban merupakan sunnah yang sangat ditekankan dan makruh ditinggalkan bagi yang mampu melaksanakannya berdasarkan hadits Anas radiallahuanhu yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim, bahwa Nabi berkurban dengan dua ekor domba yang gemuk dan bertanduk, disembelih dengan tangannya dengan membaca tasmiah dan takbir.

DENGAN APA BERKURBAN ?

Berkurban hanya dilakukan dengan onta, sapi dan kambing berdasarkan hadits Rasulullah :

Siapa yang menyembelih sebelum shalat (Id), maka sesungguhnya dia menyembelih untuk dirinya sendiri, dan siapa yang menyembelih setelah shalat dan dua khutbah, maka dia telah menyempurnakan ibadahnya dan mendapatkan sunnah (Muttafaq alaih)

Disunnahkan bagi yang mampu untuk menyembelih agar menyembelih sendiri hewan korbannya dengan berkata:

(……) بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَر، اللَّهُمَّ هَذَا عَنْ فُلاَن

“ dengan menyebut nama Allah, dan Allah maha besar, Yaa Allah ini adalah (korban) dari si fulan ………(dengan meyebut namanya atau nama yang mewasiatkannya)”

Rasulullah e ketika menyembe-lih seekor domba beliau mengucapkan:

بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَر، اللَّهُمَّ هَذَا عَنِّيوَعَنْ مَنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي

Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, Yaa Allah ini adalah (korban) dariku dan dari siapa yang tidak berkurban dari umatku

( Riwayat Abu Daud dan Turmuzi).

Adapun bagi yang tidak mampu meyembelih maka hendaknya dia melihat dan hadir saat penyembelihan hewan kurban.

Pesan Hewan Qurban

Di berdayakan oleh | Pondok Yatim | Hewan qurban | Berqurban |Download Majalah Edisi 2|

Comments (0)

hewan qurban

Tags: ,

KEUTAMAAN SEPULUH HARI (PERTAMA) BULAN DZUL HIJJAH

Posted on 03 October 2013 by admin

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين … أما بعد؛

Sesungguhnya merupakan karu-nia Allah I, dijadikan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang shalih musim-musim untuk memperbanyak amal shaleh. Diantara musim-musim tersebut adalah sepuluh hari (pertama) bulan Dzul Hijjah yang keutamaannya dinyatakan oleh dalil-dalil dalam kitab dan Sunnah:

1. Firman Allah U:

وَالْفَجْرِ . وَلَيَالٍ عَشْرٍ [ الفجر 1-2]

Demi fajar, dan malam yang sepuluh (Al Fajr 1-2)

Ibnu Katsir berkata: “ Yang dimaksud adalah sepuluh hari (pertama) bulan Dzul Hijjah“

2. Allah U berfirman:

“…dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan”(Al Hajj 28).

Ibnu Abbas berkata: “ (Yang dimaksud adalah) hari-hari sepuluh (bulan Dzul Hijjah) “.

3. Dari Ibnu Abbas radiallahuanhu dia berkata: Rasulullah bersabda:

مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلُ مِنْ هَذِهِ العَشْرِ ” قَالُوا : وَلاَ الْجِهَادُ ؟، قَالَ: ” وَلاَ الْجِهَادُ إِلاَّ رَجُلٌ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ”[رواه البخاري]

Tidak ada amal perbuatan yang lebih utama dari (amal yang dilakukan pada) sepuluh hari bulan Dzul Hijjah, mereka

berkata : Tidak juga jihad (lebih utama dari itu) ?, beliau bersabda: Tidak juga jihad, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwanya dan hartanya dan kembali tanpa membawa sesuatupun (Riwayat Bukhori)

4. Dari Ibnu Umar radiallahuanhu dia berkata: Rasulullah bersabda:

Tidak ada hari-hari yang lebih besar di sisi Allah Ta’ala dan tidak ada amal perbuatan yang lebih dicintai selain pada sepuluh hari itu. Maka perbanyaklah pada hari-hari tersebut Tahlil, Takbir dan Tahmid “ (Riwayat Tabrani dalam Mu’jam Al Kabir)

5. Adalah Sa’id bin Jubair –rahimahul-lah- dan dia yang meriwayatkan hadits Ibnu Abbas yang lalu, jika datang sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah sangat bersungguh-sungguh hingga hampir saja dia tidak kuasa (melaksa-nakannya) “ (Riwayat Darimi dengan sanad yang hasan)

6. Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya Fathul Baari: “ Tampaknya sebab mengapa sepuluh hari Dzul Hijjah diisti-mewakan adalah karena pada hari tersebut merupakan waktu berkumpul-nya ibadah-ibadah utama; yaitu shalat, shaum, shadaqah dan haji dan tidak ada selainnya waktu seperti itu “.

7. Para ulama menyatakan: “ Sepuluh hari Dzul Hijjah adalah hari-hari yang paling utama, sedangkan malam-malam terakhir bulan Ramadhan adalah malam-malam yang paling utama ”.

Pekerjaan yang dianjurkan pada hari-hari tersebut :

a. Shalat :

Disunnahkan bersegera menger-jakan shalat fardhu dan memperbanyak shalat sunnah, karena semua itu merupakan ibadah yang paling utama. Dari Tsauban radiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda :

Hendaklah kalian memper-banyak sujud kepada Allah, karena setiap kali kamu bersujud, maka Allah mengangkat derajat kamu, dan menghapus kesalahan kamu

Hal tersebut berlaku umum di setiap waktu.

b. Shoum (Puasa) :

Karena dia termasuk perbuatan amal shaleh. Dari Hunaidah bin Kholid dari istrinya dari sebagian istri-istri Rasulullah e, dia berkata:

Adalah Rasulullah e berpuasa pada tanggal sembilan Dzul Hijjah, sepuluh Muharram dan tiga hari setiap bulan (Riwayat Imam Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i).

Imam Nawawi berkata tentang puasa sepuluh hari bulan Dzul Hijjah : “ Sangat di sunnahkan “.

c.Takbir, Tahlil dan Tahmid.

Sebagaimana terdapat riwayat dalam hadits Ibnu Umar terdahulu : Perbanyaklah Tahlil, Takbir dan Tahmid pada waktu itu

Imam Bukhori berkata: “ Adalah Ibnu Umar dan Abu Hurairah radiallahuanhuma keluar ke pasar pada hari sepuluh bulan Dzul Hijjah, mereka berdua bertakbir dan orang-orangpun ikut bertakbir karenanya“, dia juga berkata: “ Adalah Umar bin Khottob bertakbir di kemahnya di Mina dan di dengar mereka yang ada dalam masjid, lalu mereka bertakbir dan bertakbir pula orang-orang yang di pasar hingga Mina bergetar oleh takbir “. Dan Ibnu Umar bertakbir di Mina pada hari-hari tersebut, setelah shalat dan di atas pembaringannya, di atas kudanya, di majlisnya dan saat berjalan pada semua hari-hari tersebut. Disunnahkan mengeraskan takbir karena perbuatan Umar tersebut dan anaknya dan Abu Hurairah radiallahuanhuma.

Maka hendaknya kita kaum muslimin menghidupkan sunnah yang telah ditinggalkan pada masa ini, bahkan hampir saja terlupakan hingga oleh mereka orang-orang shalih, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh salafussalih terdahulu.

d. Puasa hari Arafah.

Puasa Arafah sangat dianjurkan bagi mereka yang tidak pergi haji, sebagaimana riwayat dari Rasulullah e bahwa dia berkata tentang puasa Arafah:

Saya berharap kepada Allah agar dihapuskan (dosa) setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya (Riwayat Muslim)

e. Keutamaan hari raya kurban (tgl 10 Dzul Hijjah).

Banyak orang yang melalaikan hari yang besar ini, padahal para ulama berpendapat bahwa dia lebih utama dari hari-hari dalam setahun secara mutlak, bahkan termasuk pada hari Arafah. Ibnu Qoyyim –rahimahullah- berkata: “ Sebaik-baik hari disisi Allah adalah hari Nahr (hari raya qurban), dia adalah hari haji Akbar “, sebagaimana terdapat dalam sunan Abu Daud, Rasulullah e bersabda:

Sesungguh-nya hari-hari yang paling mulia disisi Allah adalah hari Nahr, kemudian hari qar

hari Qar adalah hari menetap di Mina, yaitu tanggal 11 Dzul Hijjah. Ada juga yang mengatakan bahwa hari Arafah lebih mulia dari hari Nahr, karena puasa pada hari itu menghapus dosa dua tahun, dan tidak ada hari yang lebih banyak Allah bebaskan orang dari neraka kecuali hari Arafah, dan karena pada hari tersebut Allah mendekat kepada hamba-Nya, kemudian Dia membanggakan kepada malaikat-Nya terhadap orang-orang yang sedang wukuf.

Yang benar adalah pendapat pertama, karena hadits yang menunjukkan hal tersebut tidak ada yang menentangnya sama sekali. Namun, apakah dia lebih utama atau hari Arafah, hendaklah setiap muslim baik yang melaksanakan haji atau tidak berupaya sungguh-sungguh untuk mendapatkan keutamaan hari tersebut dan menggunakan kesempatan sebaik-baiknya.

Pesan Hewan Qurban Dobel Pahala

Comments (0)

daftar-sekarang

Tags: , , ,

Domba Qurban

Posted on 29 September 2012 by admin



QURBAN UNTUK YATIM DI PEDESAAN 2013
PONDOK YATIM AL-HILAL

1. Daging Qurban di distribusikan ke anak2 yatim duafa di pedesaan sehingga lebih bermanfaat dan sampai kepada yang sangat membutuhkan.

2. Multi Manfaat yatitu Mendapat pahala Qurban, tercatat menajdi penyantun Anak Yatim dan memberdayakan ekobomi pedesaan karena hewan qurban dibeli di sekitar pedesaan.

3. Donatur yang ber Qurban dan keluarganya akan di doakan oleh anak2 yatim semoga lebih berkah.

4. Distribusi Daging Qurban akan dibarengi dengan Pembinaan dan Motivasi bagi Anak Yatim sehingga membawa manfaat bagi kehidupan anak yatim kedepan

 


 

HARGA HEWAN QURBAN 2013 :


SAPI : Rp 13.300.000,- per ekor untuk 7 orang atau Rp1.900.000,-


DOMBA : Rp. 2.000.000/orang


REK MANDIRI No.. 1320012549953 an. Yayasan Al-Hilal



Form Pendaftaran

Nama Anda (wajib) :
Emaill Anda (wajib) :
Nomor Hp (wajib) :
Pilih Hewan (wajib) :  Kambing Rp2.000.000/orang Sapi Rp1.900.000/orang Sapi Rp13.300.000/7 orang
Alamat Anda :
Pilih Bank Transfer :
Upload Bukti Transfer :
file yang di ijinkan .jpg, .png, .gif, .bmg
Catatan Tambahan :

 

Comments (1)


CHAT DENGAN STAFF KAMI:

Hendra
Iwan Setiawan
Handriana