Dalam delapan tahun terakhir saya telah melakukan banyak hal. Saya telah melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan. Mulai dari dagang koran sampai dagang obat, melamar sana-sini, kuliah diberapa tempat dan hal lainnya. Akhirnya saya mendirikan penerbitan buku dan kuliah S2.
Kalau dihitung ternyata banyak sekali hasil yang tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Sering ditengah malam saya berpikir mengapa saya melakukan hal-hal itu, mengapa saya tidak membiarkan hidup saya seperti dulu dengan tidak banyak melakukan perubahan. Mengapa saya tidak membiarkan hidup ini apa adanya.
Namun setelah saya pikir ulang saya mengambil kesimpulan walaupun beberapa kali usaha yang saya rintis tidak sukses, saya sesungguhnya telah meraih kesuksesan dibandingkan orang lain. Yaitu sukses untuk berani berubah, sukses untuk melawan ketidak beranian mencoba hal yang berbeda, sukses untuk tidak takut gagal. Sukses untuk mau belajar. Sukses mendapat kawan baru. Bahkan sukses mengenal orang yang tidak amanah.
Saya telah memiliki aset yang jarang dimiliki orang lain, yaitu kegagalan. Tinggal bagaimana memoles kegagalan itu menjadi polesan yang indah. Itu bisa dilakukan dengan terus belajar, baik belajar dengan mengambil hikmah dari kegagalan itu maupun belajar bagaimana orang lain menghadapi kegagalan.
Oleh karena itulah saat ini saya pernah mencoba belajar menjadi pegawai rendahan selama 5 bulan, belajar menjadi bawahan, belajar untuk mengetahui bagaimana orang memimpin orang lain. Ketika menjadi karyawan jiwa kemandirian dijaga untuk tidak luntur. Dengan demikian saya tetap berani untuk selalu berpikir dan bertindak yang mungkin bagi sebagain orang itu tidak umum. Hasil perenungan saya menyimpulkan bahwa kegagalan merupakan akibat logis dari perbuatan kita. Kalau saya takut untuk melakukan perubahan, takut untuk berbuat sesuatu, takut untuk mengambil keputusan yang berbeda karena takut mengalami kegagalan berarti saya sebenarnya telah gagal.
Kegagalan itu bukan berarti kiamat. Kegagalan adalah sebuah nikmat yang Allah berikan kepada manusia untuk menjadi bahan intropeksi dan kekuatan. Jadi tugas kita sebagai manusia hanya tiga yaitu ikhlas lalu berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan apa yang menjadi cita-citanya kemudian tawakal kepada Allah. Jadi buat apa harus takut gagal
Beberapa kali saya bertanya dalam hati, mengapa saya gagal dan tidak mencapai keberhasilan? Mengapa saya belum berhasil dan menemui kegagalan? Apakah kegagalan merupakan realitas wajib untuk mencapai keberhasilan.
Saudaraku kita semua tidak ingin gagal. Kita semua menghindari kegagalan. Tetapi rupanya kegagalan sangat akrab dalam kehidupan kita. Banyak target yang tak tercapai , banyak cita-cita yang tak terealisir, dan banyak harapan tinggallah kosong.
Apakah anda takut gagal? Sedemikian takutnya sampai anda tidak berusaha untuk mencoba? Coba anda pikirkan kembali,hal tersebut. Dengan tidak mencoba barang sekalipun, sebenarnya anda sudah gagal. Kalau anda berbuat sesuatu ada dua kemungkinan yang terjadi, yaitu berhasil sesuai dengan yang anda harapkan atau gagal tidak sesuai dengan apa yang menjadi harapan anda. Namun kalau anda tidak berbuat sesuatu,hanya satu kemungkinannya yaitu tidak ada hasil. Jadi rasa takut gagal adalah kegagalan yang pasti.
Keberhasilan tidak dicapai dalam sekejap, berlangsung secara perlahan. Sedikit demi sedikit keberhasilan ditumpuk sedemikian rupa sehingga keberhasilan itu lama kelamaan besar. Secara teroritis bila saya menghapal sepuluh ayat Al Quran dalam sehari maka dalam dua tahun saya akan hapal seluruh Al Quran. Tetapi sampai sekarang satu juz pun saya tidak hapal. Mengapa ? karena saya tidak konsisten untuk memupuk keberhasilan dengan menghapal beberapa ayat sehari.
Sebaliknya bila saya mau menulis, berkarya dua halaman saja sehari. Setahun saya bisa menulis 3 buku. Namun kalau hanya mengkhayal saja, tak ada karya yang terwujud.
Tidak ada orang didunia ini yang mampu meraih keberhasilan dalam waktu sebentar, semuanya memakan waktu. Dalam perjalanan waktu yang mereka tempuh tidak semaunya berhasil. Bahkan Nabi Muhammad sebagai orang yang paling dekat dengan sang Maha Pencipta saja memakan waktu lama untuk berdakwah. Itu pun dengan beberapa kalai kegagalan seperti perang uhud misalnya. Tapi nabi dan para sahabat tidak putus asa. Mereka yakin selama mereka masih taat dan berjuang dengan istiqomah keberhasilan akan menyertai mereka. Watak itulah yang perlu kita tiru.
Masih banyak contoh dapat kita berikan tentang kebenaran tesis bahwa keberhasilan adalah kemampuan mengambil langkah-langkah kecil untuk mencapai hasil yang besar. Dan bahwa kegagalan adalah ketidakmampuan menghindari hal-hal kecil sampai ia menumpuk sedemikian besar dan tak terhindarkan lagi konsuekuensinya.
Nah sekarang apakah anda masih merasa takut? Coba perhatikan rasa takut anda. Renungkan pesan yang berusaha disampaikan oleh rasa takut itu. Rasa takut merupakan pendorong energi yang tersembunyi dari dalam diri anda. Jangan biarkan rasa takut itu dibuang percuma. Manfaatkanlah dengan mencoba dan mencoba.
Rasa takut sebenarnya ada untuk mendorong anda maju, bukan untuk menahan anda. Biarkan rasa takut mengajarkan anda. Biarkan rasa takut mempersiapkan anda. Tetapi jangan membuat rasa takut menghentikan anda. Saat rasa takut menahan anda, coba perhatikan baik-baik apa yang menyebabkan rasa takut dan anda akan menemukan alasan untuk bergerak maju. Ingat takut atau tidak takut anda harus tetap mengambil keputusan. Hidup hanya sekali dan sudah jelas kapan kematian akan datang. Selayaknyalah kita sebagai manusia tidak takut untuk mencoba hidup, gagal atau berhasil biar Allah yang Maha Adil untuk menilainya. Kegagalan paling abadi adalah kegagalan untuk mulai bertindak. Bila anda sudah mencoba - dan ternyata gagal, anda memperoleh sesuatu yang bisa dipelajari dan mungkin dicoba kembali. Anda tidak akan pernah gagal bila anda terus berusaha.
Maka yang disebut gagal adalah ketidakmampuan untuk mengambil hikmah dari peristiwa yang terjadi, tidak mau mencoba apa yang menjadi cita-citanya, tidak mau tersenyum, tidak mau hidup hemat, tidak mau belajar dan ketidakmauan lainnya.
Selamat mencoba saudaraku, semoga berhasil. (Hendra Setiawan)






