Archive | November, 2012

sebuah-koin-kuno-penyok

Tags:

Inspiring “Hanya sebuah Koin Penyok”

Posted on 16 November 2012 by admin

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya, sandang dan pangan. Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. “Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok, “ gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank. “Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar. Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini.

Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya.Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang. Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik2 saja kan ? Apa yang diambil oleh perampok tadi?” Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa.. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.

Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan? Sebaliknya, sepatutnya kita bersyukur atas segala karunia hidup yang telah Tuhan berikan pada kita, karena ketika datang dan pergi kita tidak membawa apa-apa.

Comments (0)

6ebfec43-aece-4269-94a8-459c5ba568c3[1]

Tags: , ,

Hanya Orang Berhasil Yang Pernah Gagal

Posted on 13 November 2012 by admin

Dalam delapan tahun terakhir saya telah melakukan banyak hal. Saya telah melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan. Mulai dari dagang koran sampai dagang obat, melamar sana-sini, kuliah diberapa tempat dan hal lainnya. Akhirnya saya mendirikan penerbitan buku dan kuliah S2.

Kalau dihitung ternyata banyak sekali hasil yang tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Sering ditengah malam saya berpikir mengapa saya melakukan hal-hal itu, mengapa saya tidak membiarkan hidup saya seperti dulu dengan tidak banyak melakukan perubahan. Mengapa saya tidak membiarkan hidup ini apa adanya.

Namun setelah saya pikir ulang saya mengambil kesimpulan walaupun beberapa kali usaha yang saya rintis tidak sukses, saya sesungguhnya telah meraih kesuksesan dibandingkan orang lain. Yaitu sukses untuk berani berubah, sukses untuk melawan ketidak beranian mencoba hal yang berbeda, sukses untuk tidak takut gagal. Sukses untuk mau belajar. Sukses mendapat kawan baru. Bahkan sukses mengenal orang yang tidak amanah.

Saya telah memiliki aset yang jarang dimiliki orang lain, yaitu kegagalan. Tinggal bagaimana memoles kegagalan itu menjadi polesan yang indah. Itu bisa dilakukan dengan terus belajar, baik belajar dengan mengambil hikmah dari kegagalan itu maupun belajar bagaimana orang lain menghadapi kegagalan.

Oleh karena itulah saat ini saya pernah mencoba belajar menjadi pegawai rendahan selama 5 bulan, belajar menjadi bawahan, belajar untuk mengetahui bagaimana orang memimpin orang lain. Ketika menjadi karyawan jiwa kemandirian dijaga untuk tidak luntur. Dengan demikian saya tetap berani untuk selalu berpikir dan bertindak yang mungkin bagi sebagain orang itu tidak umum. Hasil perenungan saya menyimpulkan bahwa kegagalan merupakan akibat logis dari perbuatan kita. Kalau saya takut untuk melakukan perubahan, takut untuk berbuat sesuatu, takut untuk mengambil keputusan yang berbeda karena takut mengalami kegagalan berarti saya sebenarnya telah gagal.

Kegagalan itu bukan berarti kiamat. Kegagalan adalah sebuah nikmat yang Allah berikan kepada manusia untuk menjadi bahan intropeksi dan kekuatan. Jadi tugas kita sebagai manusia hanya tiga yaitu ikhlas lalu berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan apa yang menjadi cita-citanya kemudian tawakal kepada Allah. Jadi buat apa harus takut gagal

Beberapa kali saya bertanya dalam hati, mengapa saya gagal dan tidak mencapai keberhasilan? Mengapa saya belum berhasil dan menemui kegagalan? Apakah kegagalan merupakan realitas wajib untuk mencapai keberhasilan.

Saudaraku kita semua tidak ingin gagal. Kita semua menghindari kegagalan. Tetapi rupanya kegagalan sangat akrab dalam kehidupan kita. Banyak target yang tak tercapai , banyak cita-cita yang tak terealisir, dan banyak harapan tinggallah kosong.

Apakah anda takut gagal? Sedemikian takutnya sampai anda tidak berusaha untuk mencoba? Coba anda pikirkan kembali,hal tersebut. Dengan tidak mencoba barang sekalipun, sebenarnya anda sudah gagal. Kalau anda berbuat sesuatu ada dua kemungkinan yang terjadi, yaitu berhasil sesuai dengan yang anda harapkan atau gagal tidak sesuai dengan apa yang menjadi harapan anda. Namun kalau anda tidak berbuat sesuatu,hanya satu kemungkinannya yaitu tidak ada hasil. Jadi rasa takut gagal adalah kegagalan yang pasti.

Keberhasilan tidak dicapai dalam sekejap, berlangsung secara perlahan. Sedikit demi sedikit keberhasilan ditumpuk sedemikian rupa sehingga keberhasilan itu lama kelamaan besar. Secara teroritis bila saya menghapal sepuluh ayat Al Quran dalam sehari maka dalam dua tahun saya akan hapal seluruh Al Quran. Tetapi sampai sekarang satu juz pun saya tidak hapal. Mengapa ? karena saya tidak konsisten untuk memupuk keberhasilan dengan menghapal beberapa ayat sehari.

Sebaliknya bila saya mau menulis, berkarya dua halaman saja sehari. Setahun saya bisa menulis 3 buku. Namun kalau hanya mengkhayal saja, tak ada karya yang terwujud.

Tidak ada orang didunia ini yang mampu meraih keberhasilan dalam waktu sebentar, semuanya memakan waktu. Dalam perjalanan waktu yang mereka tempuh tidak semaunya berhasil. Bahkan Nabi Muhammad sebagai orang yang paling dekat dengan sang Maha Pencipta saja memakan waktu lama untuk berdakwah. Itu pun dengan beberapa kalai kegagalan seperti perang uhud misalnya. Tapi nabi dan para sahabat tidak putus asa. Mereka yakin selama mereka masih taat dan berjuang dengan istiqomah keberhasilan akan menyertai mereka. Watak itulah yang perlu kita tiru.

Masih banyak contoh dapat kita berikan tentang kebenaran tesis bahwa keberhasilan adalah kemampuan mengambil langkah-langkah kecil untuk mencapai hasil yang besar. Dan bahwa kegagalan adalah ketidakmampuan menghindari hal-hal kecil sampai ia menumpuk sedemikian besar dan tak terhindarkan lagi konsuekuensinya.

Nah sekarang apakah anda masih merasa takut? Coba perhatikan rasa takut anda. Renungkan pesan yang berusaha disampaikan oleh rasa takut itu. Rasa takut merupakan pendorong energi yang tersembunyi dari dalam diri anda. Jangan biarkan rasa takut itu dibuang percuma. Manfaatkanlah dengan mencoba dan mencoba.

Rasa takut sebenarnya ada untuk mendorong anda maju, bukan untuk menahan anda. Biarkan rasa takut mengajarkan anda. Biarkan rasa takut mempersiapkan anda. Tetapi jangan membuat rasa takut menghentikan anda. Saat rasa takut menahan anda, coba perhatikan baik-baik apa yang menyebabkan rasa takut dan anda akan menemukan alasan untuk bergerak maju. Ingat takut atau tidak takut anda harus tetap mengambil keputusan. Hidup hanya sekali dan sudah jelas kapan kematian akan datang. Selayaknyalah kita sebagai manusia tidak takut untuk mencoba hidup, gagal atau berhasil biar Allah yang Maha Adil untuk menilainya. Kegagalan paling abadi adalah kegagalan untuk mulai bertindak. Bila anda sudah mencoba - dan ternyata gagal, anda memperoleh sesuatu yang bisa dipelajari dan mungkin dicoba kembali. Anda tidak akan pernah gagal bila anda terus berusaha.

Maka yang disebut gagal adalah ketidakmampuan untuk mengambil hikmah dari peristiwa yang terjadi, tidak mau mencoba apa yang menjadi cita-citanya, tidak mau tersenyum, tidak mau hidup hemat, tidak mau belajar dan ketidakmauan lainnya.

Selamat mencoba saudaraku, semoga berhasil. (Hendra Setiawan)

Comments (0)

rumahku syurgaku

Tags:

Rumahku Syurgaku

Posted on 08 November 2012 by admin

Allah Swt. berfirman, “Dan sesungguhnya Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal.” (An-Nahl: 80)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Swt. menyebutkan kesempurnaan nikmat-Nya atas hamba-Nya, dengan apa yang Dia jadikan bagi mereka rumah-rumah yang merupakan tempat tinggal mereka. Mereka kembali kepadanya, berlindung dan memanfaatkannya dengan berbagai macam manfaat.”
Keindahan terpancar dari rumah yang didalamnya terdapat akhlakul karimah. Seorang suami yang baik berusaha membantu istrinya meskipun baru saja dia pulang kerja. Dia tidak melihat kelelahan yang ada pada dirinya, tetapi rasa cintanya kepada keluarga membuat semangatnya bangkit kembali. Bagi dirinya, apa yang dilakukannya akan dibalas Allah dengan pahala yang berlipat ganda. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Duduknya seorang lelaki dengan istrinya kemudian membahagiakannya, pahalanya sama dengan orang yang itikaf di masjidku.” Subhanallah, ini adalah keutamaan yang besar bagi kaum muslimin. Yang dimaksud masjidku bukan masjid-masjid yang biasa kita shalat di dalamnya, tetapi Masjid Nabawi di Madinah yang diberkahi Allah. Apabila kita shalat di dalamnya maka pahalanya sama dengan 10 ribu kali shalat di tempat lain. Tidakkah kita menginginkan keutamaan yang besar ini? Begitupun yang dilakukan oleh seorang istri salehah. Meskipun rasa lelah menggelayuti dirinya karena dari pagi sampai sore mengurus rumah dan anak-anak, dia masih tersenyum manis ketika bertemu dengan suaminya yang baru saja pulang bekerja. Dan, dengan setia pula dia melayani sang suami. Rasulullah Saw. bersabda, “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita salehah.”
Ketika keduanya telah melakukan kebaikan ini maka terpancarlah keindahan di dalam keluarga itu. Suami akan semakin mencintai istrinya, begitupun istri akan semakin mencintai suaminya.
Anak-anak yang melihat akan bahagia, saling mencintai, dan semakin hormat kepada kedua orangtuanya. Rasulullah Saw bersabda, “Tidak akan pernah memuliakan wanita kecuali lelaki yang mulia dan tidak akan pernah menghinakan wanita kecuali lelaki yang hina.”
Rasulullah Saw. adalah sosok teladan terbaik yang berhasil membina rumahtangga. Fokus beliau bukan pada harta yang dengan cepat hilang apabila dimakan dan lenyap dimakan usia, tetapi pada nilai-nilai kebaikan yang beliau tanamkan dalam diri beliau dan keluarga beliau. Dr. Aisyah Abdurrahman bercerita tentang kehidupan keluarga Rasulullah Saw, “Rumah beliau indah, meski sangat sederhana. Beliau lebih mengutamakan hidup dalam rumahnya sebagai orang zuhud. Beliau tidak pernah memaksakan sesuatu apapun terhadap istri-istrinya. Ia selalu isi kehidupan rumah tangganya dengan kehangatan dan kebersamaan yang menyenangkan.”
Dalam bahasa lain, Abbas Mahmud Al-Aqqad menggambarkan bahwa Rasulullah Saw. tidak menjadikan wibawa kenabian sebagai penghalang antara beliau dan para istrinya. Malah, kadang-kadang beliau terlalu bersikap lunak terhadap para istrinya, tegur sapanya
manis, dan selalu mengalah.
Gambaran-gambaran tentang rumah tangga Rasulullah Saw tersebut menjelaskan bahwa keluarga beliau tidak pernah mencari kebahagiaan melalui pintu-pintu duniawi. Mereka mencari kebahagiaan dari pintu-pintu akhlak mulia. Artinya, baik Rasulullah Saw maupun istri-istrinya menempatkan akhlak sebagai jalan utama tercapainya kebahagiaan mereka. Tak heran jika kemudian Rasulullah Saw bersabda, Baiti Jannati (Rumahku Surgaku). (by AF)

“Wahai Rabb kami, karuniakanlah kepada kami istri-istri dan anak-anak keturunan kami sebagai cahaya mata (penyenang hati) bagi kami, dan jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertakwa.”
(Al-Furqan: 74)

Comments (0)


CHAT DENGAN STAFF KAMI:

Hendra
Iwan Setiawan
Handriana